LANGIT7.ID-Jakarta; - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyoroti pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang berpotensi menggerus tradisi keagamaan di Indonesia. Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi), KH Masduki Baidlowi, menegaskan bahwa keautentikan sanad ilmu dan hubungan dialogis antara guru dan murid yang selama ini menjadi fondasi keislaman Nusantara tidak boleh sampai luntur akibat dominasi algoritma digital.
Hal tersebut disampaikan Kiai Masduki saat menjadi pembicara kunci dalam pembukaan workshop bertajuk "Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI" yang diselenggarakan Komisi Infokomdigi MUI bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta baru-baru ini. Menurutnya, perkembangan AI saat ini telah bertransformasi dari sekadar pembuat teks atau gambar otomatis menjadi AI Agent yang mampu merencanakan dan mengeksekusi keputusan secara mandiri.
Kiai Masduki menggarisbawahi perubahan tren generasi muda yang kini cenderung memburu jawaban dan ekspresi keagamaan melalui simulasi avatar serta rekomendasi sistem algoritma. Fenomena ini memicu lahirnya echo chamber atau ruang gema, di mana audiens hanya mengonsumsi wacana keagamaan yang sesuai dengan preferensi pribadi tanpa melalui proses verifikasi (cross-check).
"Anak muda hari ini mencari ekspresi keagamaan lewat AI avatar dan algoritma," kata Kiai Masduki dikutip laman resmi MUI, Sabtu (1/8/2026).
Ia menegaskan bahwa situasi ini sangat mengkhawatirkan jika lembaga keagamaan memilih bersikap pasif. Menurutnya, pergeseran budaya tersebut berisiko merusak tatanan keilmuan Islam yang selama ini dijaga erat oleh para ulama.
"Ini sangat berbahaya karena sistem sanad kita, tradisi belajar guru dan murid, bisa dihancurkan oleh sistem digital jika kita pasif," kata Kiai Masduki menegaskan.
Baca Juga: Pembatasan Penggunaan Gawai di Sekolah, Hidupkan Interaksi Langsung Sesama MuridLebih jauh, ia menjelaskan bahwa pemahaman agama di kalangan generasi muda saat ini sedang mengalami dekonstelasi. Agama kerap dimaknai sebatas pemuas ego dan kenyamanan personal, bukan lagi pencarian hidayah yang berproses bersama guru Rabbani. Kondisi tersebut membuat jawaban-jawaban instan di platform digital berpotensi memutus mata rantai ajaran Islam Wasathiyah yang damai dan sahih.
"Akibatnya, jawaban-jawaban serba instan dari platform digital berpotensi memutus mata rantai pemahaman agama yang damai (wasathiyah) dan sahih," tutur dia.
Kendati demikian, Kiai Masduki menekankan bahwa teknologi AI sejatinya merupakan perangkat pendukung yang harus ditaklukkan dan diarahkan untuk kemaslahatan umat. AI dapat dimanfaatkan secara efisien untuk menyebarkan pesan-pesan keselamatan, mempermudah tata kelola zakat, hingga memfasilitasi pembelajaran Al-Qur'an dan hadis yang tetap berada di bawah pengawasan serta verifikasi ulama.
"MUI harus diisi oleh orang-orang berkapasitas tinggi agar dipercaya generasi muda," ujar dia.
Ia menambahkan bahwa MUI tidak boleh menjadi lembaga pasif yang sekadar menyalahkan perkembangan zaman, melainkan harus terampil menguasai AI guna mengarahkan narasi keislaman yang moderat.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Komisi Infokomdigi MUI, Hari Usmayadi, mengungkapkan bahwa medan dakwah masa kini telah bergeser menjadi pertarungan memenangkan perhatian publik melalui pemahaman algoritma media sosial. "Saat ini kita menghadapi fenomena perang algoritma," ujar pria yang akrab disapa Cak Usma tersebut.
Cak Usma mengingatkan pentingnya menjaga agar konten keislaman yang mencerahkan dan sahih tidak terdesak oleh maraknya konten merusak peradaban, seperti pinjaman online ilegal, propaganda radikal dan ekstremis, serta figur-figur populer yang berani memaparkan pandangan agama tanpa kepakaran ilmiah. Meski AI memiliki risiko manipulasi seperti deepfake dan penyesatan informasi, teknologi ini menyimpan potensi besar yang wajib direbut oleh umat Islam.
Sebagai langkah konkret, MUI mendorong lahirnya para Mujahid Digital yang dibekali kecakapan teknis dalam memproduksi serta mendistribusikan narasi digital yang mendidik. Berbeda dengan forum akademis pada umumnya, pelatihan ini dirancang berbasis tindakan (action-oriented) dengan porsi 60 persen praktik teknis terapan dan 40 persen penguatan teori.
"Kami ingin setiap peserta yang hadir tidak keluar masuk dan benar-benar fokus," tutur Cak Usma.
Melalui skema tersebut, para peserta yang terdiri dari perwakilan MUI daerah, pengelola media lembaga, BAZNAS, dan para pembuat konten (influencer) muda dibekali keahlian prompt engineering, generative engine optimization (GEO), hingga strategi manajemen media. Setiap peserta ditargetkan menghasilkan luaran nyata berupa dokumentasi bank prompt AI dan rencana publikasi konten keislaman moderat yang siap rilis.
Baca Juga: Tantangan Mempertahankan Agama di Tengah Fitnah Akhir ZamanCak Usma juga menyoroti pentingnya kolaborasi strategis antara kepakaran ulama senior dan kecakapan teknis generasi muda. Sinergi ini menggabungkan otoritas keilmuan kiai dalam menjaga etika serta validasi dalil syariat dengan kelincahan anak muda dalam mengoperasikan perangkat kecerdasan buatan.
"Banyak pengurus dan ulama kita yang sangat expert di bidangnya namun sudah sepuh. Di sinilah peran adik-adik peserta yang muda ini untuk melakukan pendampingan. Kalian yang menguasai perangkat AI dan algoritmanya, tetapi substansi, validasi dalil, dan etika syariatnya tetap bersumber dari arahan para ulama," tambahnya.
Langkah konkret yang diinisiasi Infokomdigi MUI dan BAZNAS RI ini sekaligus menjadi wujud nyata implementasi rekomendasi Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII, yang menempatkan transformasi digital sebagai agenda prioritas nasional demi merawat peradaban bangsa yang damai, makmur, dan berakhlak mulia.
(zhd)