home global news

Peneliti Korea Selatan Ulas Kolegialitas Pimpinan Muhammadiyah

Jum'at, 07 Agustus 2026 - 19:29 WIB
Peneliti Korea Selatan Ulas Kolegialitas Pimpinan Muhammadiyah
Kepemimpinan di tubuh organisasi Muhammadiyah terus mengalami transformasi struktural yang signifikan dari masa ke masa. Antropolog dari Kangwon National University, Korea Selatan, Hyung-Jun Kim, mengulas secara mendalam bagaimana pola pemilihan dan hubungan antar-pimpinan Muhammadiyah bergeser dari jaringan kekerabatan lokal menjadi sistem organisasi modern yang makin terinstitusionalisasi.‎‎Dalam studinya yang dipresentasikan di MAARIF Institute, Jumat (7/8/2026), Kim memaparkan bahwa pimpinan era awal Muhammadiyah terikat kuat oleh hubungan kekeluargaan di Kauman, Yogyakarta. Namun, seiring meluasnya basis organisasi, pemilihan pimpinan kini diwarnai oleh beragam individu dari latar belakang geografis dan akademis yang berbeda, sehingga mekanisme kolegialitas organisasi mengambil alih peran kepemimpinan personal.‎‎Meski sistem ini berhasil mencegah dominasi figur tunggal, Kim menyoroti adanya dampak sosial dari profesionalisasi kepemimpinan tersebut. Peneliti asal Korea Selatan itu menilai bahwa penekanan pada aturan formal telah mengikis kedekatan emosional yang dahulu menjadi perekat antar-aktivis persyarikatan.‎‎"Penekanan untuk menghindari hubungan personal, baik dalam retorika maupun praktik, telah mengarahkan pada apa yang digambarkan Haedar Nashir sebagai 'hilangnya kontak personal' di antara para anggota, aktivis, dan pimpinan," tegas Hyung-Jun Kim dalam studinya.‎‎Kim menambahkan bahwa interaksi dalam kepemimpinan Muhammadiyah saat ini cenderung kaku dan tidak lagi dipengaruhi oleh kehangatan hubungan kekeluargaan seperti pada era awal berdiri. Mengutip pandangan internal organisasi, ia menggambarkan ikatan antar-pengurus saat ini telah kehilangan sentuhan personalnya.‎‎"Seorang pengurus Pimpinan Wilayah Yogyakarta mengarakterisasi 'hilangnya kontak personal' ini sebagai sesuatu yang 'kering', yang mengindikasikan bahwa keengganan Muhammadiyah dalam memupuk ikatan personal yang erat telah menghasilkan interaksi yang sepenuhnya formal dan impersonal," lanjut Hyung-Jun Kim.‎‎Melalui analisisnya, Kim menyimpulkan bahwa kepemimpinan kolegial dan sistem di Muhammadiyah memang sangat efektif dalam mendistribusikan otoritas keagamaan secara merata. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga kehangatan ikatan silaturahmi agar nilai kebersamaan tidak sepenuhnya berganti menjadi hubungan birokratis yang kaku.‎
(zhd)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya