Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 21 September 2026
home masjid detail berita

Tafsir At-Tur Ayat 21: Janji Allah Satukan Keluarga di Surga

ahmad zuhdi Senin, 21 September 2026 - 20:51 WIB
Tafsir At-Tur Ayat 21: Janji Allah Satukan Keluarga di Surga
LANGIT7.ID-Jakarta; -

Surat At-Tur ayat 21 berada di tengah-tengah rangkaian gambaran kenikmatan surga bagi orang-orang bertakwa yang dipaparkan pada ayat-ayat sebelumnya. Setelah Allah ﷻ melukiskan balasan kenikmatan bagi para mutaqin, ayat ini menyempurnakan kegembiraan tersebut dengan karunia yang sangat agung, yaitu menghubungkan keturunan orang-orang beriman dengan orang tua mereka di dalam surga.

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍۢ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌۭ



Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (QS At-Tur: 21).

Karunia ini tetap diberikan sekalipun derajat amal sang anak berada di bawah derajat orang tuanya. Pada saat yang sama, ayat ini juga menegaskan prinsip keadilan Ilahi bahwa setiap jiwa tetap terikat pada apa yang diusahakannya sendiri. Al-Biqāʿī menjelaskan bahwa ayat ini hadir untuk mengikis kekhawatiran bahwa penggabungan anak-anak tersebut akan mengurangi pahala orang tua, sekaligus menegaskan prinsip bahwa tiada seorang pun yang memikul dosa orang lain.

Penggalan awal wal-lażīna āmanū wattaba'at-hum żurriyyatuhum bi'īmān memberitakan tentang orang-orang beriman yang diikuti oleh anak cucu mereka dalam keimanan. Al-Ṭabarī menukilkan penafsiran ulama salaf bahwa Allah ﷻ mengangkat derajat anak cucu yang beriman agar bisa berkumpul dengan orang tuanya di surga, sekalipun amalan mereka belum mencukupi untuk mencapai tingkatan tersebut.

Hal ini diberikan sebagai bentuk penghormatan serta kemuliaan bagi para orang tua yang beriman. Al-Baghawī memperinci bahwa cakupan kata żurriyyah meliputi anak-anak berukuran kecil maupun dewasa. Anak yang sudah dewasa dinilai berdasarkan keimanan personal mereka, sedangkan anak-anak yang masih kecil diikutkan pada status keimanan kedua orang tuanya.

Al-Saʿdī menambahkan bahwa karunia ini menjadi bagian dari kesempurnaan nikmat surga, di mana anak cucu yang menyusul dengan modal keimanan akan diikutkan kepada orang tua mereka, apalagi jika anak cucu tersebut memang beriman atas kesadaran diri mereka sendiri.

Tindakan Allah ﷻ yang dinyatakan dalam kalimat al-ḥaqnā bihim żurriyyatahum memperlihatkan bentuk keutamaan, kemurahan, dan kelembutan-Nya kepada para hamba. Ibn Katsīr menerangkan bahwa penyatuan ini bertujuan agar mata para bapak menjadi sejuk dan bahagia karena dapat berkumpul bersama anak-anak mereka di tempat kediaman surga. Allah ﷻ menyatukan mereka dengan cara terbaik, yaitu dengan mengangkat derajat tingkatan anak yang amalnya kurang agar setara dengan tingkatan orang tuanya yang amalnya lebih sempurna.

Baca Juga: MUI dan Pemerintah Pastikan Wajib Halal Siap Berlaku Oktober 2026

Al-Ālūsī menegaskan bahwa makna ilḥāq (penghubungan) di sini adalah menempatkan dan tinggal bersama-sama secara permanen, bukan sekadar kunjungan atau pertemuan sesekali. Di sisi lain, Al-Biqāʿī memperluas makna żurriyyah tidak hanya terbatas pada hubungan nasab (darah), tetapi juga mencakup hubungan sebab seperti kecintaan dan keilmuan. Orang yang mengambil ilmu atau menaruh kasih sayang karena Allah ﷻ juga berhak dihubungkan bersama, sesuai dengan prinsip sabda Nabi ﷺ bahwa seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.

Penegasan wa mā alatnāhum min 'amalihim min sya'i memberikan jaminan bahwa proses pengangkatan derajat anak tersebut tidak akan mengurangi pahala atau amalan orang tua sedikit pun. Ibn Katsīr menyebutkan bahwa Allah ﷻ menyamakan kedudukan anak dan orang tua tanpa mengurangi hak amalan yang telah dikumpulkan oleh orang tuanya. Al-Biqāʿī menekankan penggunaan penafian ganda min sya'in untuk menegaskan bahwa tidak ada pengurangan atau penahanan pahala sekecil apa pun dari orang tua akibat penyatuan keluarga ini.

Ayat ini ditutup dengan kalimat kullumri'im bimā kasaba rahīn, yang menegaskan prinsip keadilan mutlak. Al-Saʿdī menjelaskan penggalan ini sebagai pemutus kesalahpahaman agar tidak ada yang mengira hukum di neraka berlaku sama seperti di surga. Surat ini membedakan bahwa surga adalah tempat kemurahan (faḍl), sedangkan neraka adalah tempat keadilan ('adl). Di neraka, Allah ﷻ tidak akan menyiksa seseorang melainkan karena dosa yang diperbuatnya sendiri, sehingga tidak ada anak yang ikut diazab hanya karena dosa orang tuanya. Al-Biqāʿī menambah pandangan bahwa setiap individu bertanggung jawab penuh dan tergadai oleh amalnya sendiri.

Kajian terhadap Surat At-Tur ayat 21 ini memperlihatkan perpaduan yang sangat indah antara dua sifat Allah ﷻ, yaitu sifat keindahan (jamāl) dan sifat keagungan (jalāl). Sifat kemurahan-Nya hadir menyatukan keluarga beriman di surga, sementara sifat keadilan-Nya memastikan bahwa tidak ada beban dosa orang lain yang ditimpakan kepada jiwa yang tidak bersalah. Kemurahan Allah ﷻ tidak pernah melanggar prinsip keadilan, dan keadilan-Nya pun tidak membatasi luasnya kemurahan-Nya.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 21 September 2026
Imsak
04:18
Shubuh
04:28
Dhuhur
11:49
Ashar
15:00
Maghrib
17:52
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan