Athaya Raih Penghargaan Wirausaha Seni Berdampak di Pilmapres Nasional 2026
Dwi sasongko
Kamis, 13 Agustus 2026 - 15:00 WIB
Athaya Putri Nirwasita Saat Memaparkan Hasil Karyanya. Dokumentasi: Diktisaintek
LANGIT7.ID-Jakarta; Prestasi membanggakan diraih mahasiswa Difabel Program Studi Administrasi Bisnis, Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB), Athaya Putri Nirwasita. Athaya berhasil mendapatkan Anugerah Kategori Khusus Wirausaha Seni Berdampak pada ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2026 kategori Mahasiswa Disabilitas melalui inovasi Athaya Arts.
Penghargaan tersebut diumumkan dalam rangkaian Pilmapres Nasional yang diselenggarakan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Banten, pada (4/8-8/8/2026).
Athaya merupakan penyandang disabilitas Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang sejak kecil mengalami hambatan motorik halus, motorik kasar, dan kemampuan komunikasi. Namun keterbatasan bukanlah penghalang untuknya terus berkarya dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Melalui Athaya Art, ia mengembangkan konsep wearable art dengan memanfaatkan karya lukis orisinalnya sebagai motif berbagai produk fesyen dan kriya, mulai dari sepatu, tas, topi, hijab, outer, anting, hingga gantungan kunci.
Perjalanan Athaya dalam mengembangkan kewirausahaan berbasis seni telah membawanya meraih berbagai prestasi. Salah satunya menjadi Juara 1 Nasional Kompetisi Kewirausahaan Menembus Batas yang diselenggarakan Kementerian Koperasi bersama J&T Express, masuk 15 besar program Kinetic Australia-Indonesia, hingga memperoleh penghargaan Women of the Year Malang Raya 2023 dari Times Indonesia.
Berbeda dari pelukis pada umumnya, Athaya tidak menggunakan kuas dalam proses melukis. Ia memanfaatkan berbagai alat sederhana, seperti pembersih kaca, sisir, sikat cuci piring, spons, garpu, dan sendok. Salah satu karya pertamanya berjudul My Family dibuat menggunakan alat pembersih kaca.
Isha Maisa, ibu Athaya, mengatakan bahwa penggunaan alat-alat sederhana ini membuat putrinya lebih nyaman dalam mengekspresikan diri.
Penghargaan tersebut diumumkan dalam rangkaian Pilmapres Nasional yang diselenggarakan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Banten, pada (4/8-8/8/2026).
Athaya merupakan penyandang disabilitas Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang sejak kecil mengalami hambatan motorik halus, motorik kasar, dan kemampuan komunikasi. Namun keterbatasan bukanlah penghalang untuknya terus berkarya dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Melalui Athaya Art, ia mengembangkan konsep wearable art dengan memanfaatkan karya lukis orisinalnya sebagai motif berbagai produk fesyen dan kriya, mulai dari sepatu, tas, topi, hijab, outer, anting, hingga gantungan kunci.
Perjalanan Athaya dalam mengembangkan kewirausahaan berbasis seni telah membawanya meraih berbagai prestasi. Salah satunya menjadi Juara 1 Nasional Kompetisi Kewirausahaan Menembus Batas yang diselenggarakan Kementerian Koperasi bersama J&T Express, masuk 15 besar program Kinetic Australia-Indonesia, hingga memperoleh penghargaan Women of the Year Malang Raya 2023 dari Times Indonesia.
Berbeda dari pelukis pada umumnya, Athaya tidak menggunakan kuas dalam proses melukis. Ia memanfaatkan berbagai alat sederhana, seperti pembersih kaca, sisir, sikat cuci piring, spons, garpu, dan sendok. Salah satu karya pertamanya berjudul My Family dibuat menggunakan alat pembersih kaca.
Isha Maisa, ibu Athaya, mengatakan bahwa penggunaan alat-alat sederhana ini membuat putrinya lebih nyaman dalam mengekspresikan diri.