LANGIT7.ID-Jakarta; Prestasi membanggakan diraih mahasiswa Difabel Program Studi Administrasi Bisnis, Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB), Athaya Putri Nirwasita. Athaya berhasil mendapatkan Anugerah Kategori Khusus Wirausaha Seni Berdampak pada ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2026 kategori Mahasiswa Disabilitas melalui inovasi Athaya Arts.
Penghargaan tersebut diumumkan dalam rangkaian Pilmapres Nasional yang diselenggarakan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Banten, pada (4/8-8/8/2026).
Athaya merupakan penyandang disabilitas Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang sejak kecil mengalami hambatan motorik halus, motorik kasar, dan kemampuan komunikasi. Namun keterbatasan bukanlah penghalang untuknya terus berkarya dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Melalui Athaya Art, ia mengembangkan konsep wearable art dengan memanfaatkan karya lukis orisinalnya sebagai motif berbagai produk fesyen dan kriya, mulai dari sepatu, tas, topi, hijab, outer, anting, hingga gantungan kunci.
Perjalanan Athaya dalam mengembangkan kewirausahaan berbasis seni telah membawanya meraih berbagai prestasi. Salah satunya menjadi Juara 1 Nasional Kompetisi Kewirausahaan Menembus Batas yang diselenggarakan Kementerian Koperasi bersama J&T Express, masuk 15 besar program Kinetic Australia-Indonesia, hingga memperoleh penghargaan Women of the Year Malang Raya 2023 dari Times Indonesia.
Berbeda dari pelukis pada umumnya, Athaya tidak menggunakan kuas dalam proses melukis. Ia memanfaatkan berbagai alat sederhana, seperti pembersih kaca, sisir, sikat cuci piring, spons, garpu, dan sendok. Salah satu karya pertamanya berjudul My Family dibuat menggunakan alat pembersih kaca.
Isha Maisa, ibu Athaya, mengatakan bahwa penggunaan alat-alat sederhana ini membuat putrinya lebih nyaman dalam mengekspresikan diri.
“Awalnya waktu kecil untuk melatih motorik halusnya dulu pakai kuas, tetapi Athaya kesulitan. Setelah tidak sengaja dikenalkan alat-alat dapur seperti sisir, garpu, dan pembersih kaca, tangannya justru lebih nyaman dan lebih mudah mengekspresikan apa yang ada di pikirannya,” ujar dia dalam keterangannya, Kamis (13/8/2026).
Athaya Arts memiliki tagline “Istimewa Berkarya, Istimewa Berdaya” dengan logo daun kecil. Menurut Athaya filosofi daun dipilih untuk menggambarkan bahwa manfaat yang tidak harus menunggu menjadi besar.
“Sehelai daun yang tetap memberi oksigen dan menjaga lingkungan di sekitarnya, harapannya karya Athaya bisa memberi dampak nyata meski dimulai dari langkah sederhana” ujar Athaya.
Dalam proses produksinya Athaya melibatkan ibu rumah tangga dan penjahit lokal yang merupakan penyandang disabilitas. Ia juga mengajak teman-teman disabilitas untuk tampil sebagai model dalam pameran produknya, seperti pada kegiatan Malang Fashion Week serta terus mendorong berkarya bersama di rumahnya.
“Saya ingin suatu hari nanti ada ruang di mana teman disabilitas bisa belajar, berkarya, dan percaya pada kemampuannya sendiri. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mencoba,” katanya.
Semangat itu juga yang mendorong Athaya terus berkembang hingga mengikuti Pilmapres Disabilitas Nasional.
Isha Maisa mengatakan dukungan Fakultas Vokasi dan Pusat Layanan Disabilitas (PLD) UB dan teman-temannya menjadi penyemangat bagi Athaya untuk mengikuti seleksi.
“Saat dihubungi dan tau harus membuat video berbahasa Inggris, Anaknya sempat takut dan ragu. Namun, pihak fakultas dan PLD terus meyakinkan Athaya dan mendampingi, mulai dari penyusunan berkas hingga pembuatan video, sampai akhirnya Athaya percaya diri mengikuti seleksi,” ujarnya.
Ketua Pusat Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya (UB), Zubaidah Ningsih AS., Ph.D., menyampaikan bahwa setiap mahasiswa penyandang disabilitas memiliki potensi yang sama untuk berprestasi apabila memperoleh dukungan dan kesempatan yang setara.
“Dalam proses pemilihan delegasi Pilmapres ini SLDPI selalu melakukan koordinasi dan pendampingan dengan pihak Kemahasiswaan UB, Prodi Administrasi Bisnis dan pihak keluarga mulai dari proses pendataan, penyaringan, penilaian, hingga penentuan siapa yang layak mewakili kompetisi Pilmapres ini. SLDPI juga membantu penyesuaian proses dengan memperhatikan akomodasi yang layak yang diperlukan Athaya selama proses seleksi internal UB hingga proses seleksi nasional nantinya.,” ujar Zubaidah.
Menurut Zubaidah, capaian Athaya tidak hanya menjadi prestasi personal, tetapi juga menunjukkan bahwa mahasiswa penyandang disabilitas memiliki ruang untuk berkontribusi dan berdaya melalui potensi yang dimilikinya, termasuk di sektor ekonomi kreatif.
Ibunda Athaya, Isha Maisa, mengaku bangga dan bersyukur atas pencapaian putrinya yang berhasil meraih penghargaan di Pilmapres Nasional.
“Saya bangga Athaya bisa membawa nama baik UB di Pilmapres Nasional ini. Yang lebih penting, semoga semakin banyak teman-teman disabilitas yang percaya diri, berkarya, dan mendapatkan kesempatan yang sama,” tutupnya.
Ia berharap Ataya Art dapat terus berkembang dan memberi manfaat bagi lebih banyak orang.
“Yang terpenting adalah Athaya terus bertumbuh, mandiri, dan bermanfaat bagi orang lain. Jika perjalanan Athaya bisa membuat orang tua lain lebih percaya diri mendampingi anak-anak disabilitas, itu sudah menjadi pencapaian yang sangat berarti bagi kami,” ujarnya.
(lam)