LANGIT7.ID-, Jakarta - - Saat ini kita berada di era dimana ilmu bisa dibagikan ke jutaan orang melalui media sosial. Kisah inspiratif Imam Santoso, seorang
dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) dan
kreator konten pendidikan mengingatkan bahwa kekuatan terbesar pendidik tetap sederhana yaitu hadir dan percaya.
Bermula dari cerita Bagus, seorang mahasiswa ITB. Kala itu Bagus hanya memiliki sekira 30 hari untuk menyelesaikan tugas akhirnya saat ini maka dia terancam tidak bisa lulus. Kemudian kabar itu sampai ke telinga Imam Santoso, yang saat itu baru kembali dari Finlandia.
Imam langsung menghubungi Bagus dengan satu tawaran tegas. "Gus, kalau kamu enggak ke rumah Mas Imam, kamu aku jemput ke Jakarta ke rumah orang tuamu," kenangnya.
Singkat cerita, beberapa hari kemudian, Bagus mengabarkan bahwa ia sudah berada di rumah Imam, sebuah apartemen kecil di rumah singgah fasilitas ITB untuk dosen yang ketika itu dihuni sekira 10 orang. Di sana Bagus menyelesaikan tugas akhirnya. Dengan dukungan kebijakan kampus di masa pandemi Covid-19, tenggat kelulusannya diperpanjang, dan ia akhirnya berhasil lulus.
Baca juga: Inspiratif! Dokter Asal Filipina Berangkatkan Ibu Berhaji dari Jualan Sabun di TikTokKisah itu dibagikan Imam di Panggung Inspiring Educator "Menjaga Masa Depan, Untuk Pertiwi" dalam rangkaian Inspiring Educators ParagonCorp 2026 di Jakarta, beberapa waktu lalu.
"Kadang mahasiswa itu tidak perlu seseorang yang menceritakan kehebatan mereka. Mereka perlu seseorang yang percaya kepada mereka, sehingga rasa percaya dirinya kembali dengan sendirinya," ujar Imam.
Kalimat yang kerap ia sampaikan kepada mahasiswanya pun sederhana: "Kalau kamu enggak percaya pada dirimu sendiri, kali ini biarkan Mas Imam yang percaya padamu."
Pesan yang SamaDi luar kampus, Sosok Imam dikenal sebagai kreator konten pendidikan. Media sosial, katanya, membuat jangkauan seorang pendidik berlipat ganda.
"Dulu, ketika belum ada media sosial, mungkin saya hanya bisa datang ke satu sekolah dan bertemu sepuluh anak. Sekarang, melalui media sosial, kita bisa mendidik dan memotivasi bukan hanya siswa di satu kelas, tetapi jutaan orang tanpa mengenal batas ruang dan waktu," kata Imam.
Menurutnya, pendidik perlu hadir di ruang digital karena di sanalah generasi muda banyak menghabiskan waktu. "Bukan untuk menggantikan ruang kelas, tetapi untuk memperluas ruang belajar," ujarnya.
Namun, ia menegaskan teknologi tetaplah alat. Konteks, karakter, dan kepercayaan diri peserta didik tetap tumbuh dari kehadiran manusia.
Baca juga: Sosok Inspiratif Saeedah Haque: Desainer Muda Otodidak Ciptakan Abaya Streetwear Pertama di Dunia Hingga Masuk Daftar ForbesImam sendiri tumbuh berkat pendidik yang percaya padanya. Ia mengenang Pak Harsono, gurunya semasa sekolah di Jember, yang mengajar tiga generasi keluarganya, mulai dari neneknya, ibunya, hingga dirinya.
"Terima kasih Bapak Ibu Guru, terima kasih dosen saya juga," ucap Imam.
Pendidikan Butuh EkosistemImam menilai kemajuan pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada guru dan dosen, tetapi butuh dukungan berkelanjutan dari pemerintah, komunitas, hingga sektor swasta.
Ia mencontohkan rangkaian inisiatif ParagonCorp: Wardah Inspiring Teacher (WIT) untuk guru sejak 2017, Inspiring Lecturer Program (ILP) untuk dosen, dan Paragon Scholarship Program (PSP) untuk mahasiswa.
"Yang ingin saya soroti dari Paragon adalah kepeduliannya yang luar biasa. Mulai dari Inspiring Lecturer Program untuk dosen, Wardah Inspiring Teacher untuk guru, sampai Paragon Scholarship Program, yang tidak hanya memberi beasiswa tapi mahasiswanya juga didampingi. Yang paling membuat saya terharu adalah ekosistem dan dedikasi orang-orang di belakangnya yang bekerja betul-betul dari hati," ungkapnya.
Bagi mahasiswa dengan keterbatasan biaya, dukungan seperti itu bisa menentukan.
"Kita tahu ada anak-anak yang terpaksa mundur atau batal mendaftar kuliah karena keterbatasan biaya. Harapannya, dengan adanya PSP, adik-adik tidak perlu khawatir lagi untuk menempuh pendidikan tinggi," kata Imam.
Seperti Bagus yang kini sudah berkeluarga, dan seperti Imam yang pernah dipercaya gurunya, satu keputusan pendidik untuk percaya dapat menjadi titik balik hidup seseorang, lalu terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
(lsi)