MoU Iran-AS Berakhir, Gencatan Senjata di Ujung Tanduk? Selat Hormuz Jadi Sorotan
Tim langit 7
Selasa, 18 Agustus 2026 - 05:00 WIB
(Dok: Ilustrasi Langit7.id)
LANGIT7.ID-Jakarta; Tidak ada pembicaraan yang secara resmi diumumkan mengenai perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran hingga Senin. Hari tersebut menandai berakhirnya periode 60 hari yang ditetapkan dalam Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad. Namun, menurut sumber Al Arabiya, kedua negara disebut mulai mendekati kemungkinan memperpanjang gencatan senjata tersebut.
MoU itu sebelumnya dimaksudkan untuk menghentikan perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan, menewaskan ribuan orang, membuat kawasan tersebut berada dalam tekanan berat, serta terus menimbulkan beban ekonomi secara global.
Meski Nota Kesepahaman Islamabad secara resmi mengakhiri perang, aktivitas militer tidak benar-benar berhenti. Dalam beberapa pekan setelah kesepakatan tersebut, AS dan Iran berulang kali saling melancarkan serangan serta menuduh satu sama lain melanggar gencatan senjata.
Israel juga terus melakukan operasi di Lebanon. Sementara itu, ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah serangkaian serangan terhadap kapal, serangan baru AS, serta diberlakukannya kembali blokade angkatan laut. Kondisi tersebut memperlihatkan betapa masih diperdebatkannya makna dan penerapan kesepakatan tersebut.
Setelah MoU berakhir, tampaknya tidak banyak keinginan dari kedua pihak untuk menghidupkannya kembali. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dalam keterangannya kepada kantor berita semi-resmi ISNA pada Sabtu, menolak penyebutan Nota Kesepahaman Islamabad sebagai gencatan senjata.
Menurut Araghchi, kesepakatan tersebut merupakan "akhir dari perang". Ia menegaskan bahwa "kami tidak memiliki gencatan senjata yang sekarang harus diperpanjang."
Di sisi lain, Araghchi mengatakan perundingan dengan Oman terkait Selat Hormuz masih berlangsung. Namun, ia menekankan bahwa kesepakatan hanya mungkin dicapai jika solusi politik berhasil ditemukan.
MoU itu sebelumnya dimaksudkan untuk menghentikan perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan, menewaskan ribuan orang, membuat kawasan tersebut berada dalam tekanan berat, serta terus menimbulkan beban ekonomi secara global.
Meski Nota Kesepahaman Islamabad secara resmi mengakhiri perang, aktivitas militer tidak benar-benar berhenti. Dalam beberapa pekan setelah kesepakatan tersebut, AS dan Iran berulang kali saling melancarkan serangan serta menuduh satu sama lain melanggar gencatan senjata.
Israel juga terus melakukan operasi di Lebanon. Sementara itu, ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah serangkaian serangan terhadap kapal, serangan baru AS, serta diberlakukannya kembali blokade angkatan laut. Kondisi tersebut memperlihatkan betapa masih diperdebatkannya makna dan penerapan kesepakatan tersebut.
Setelah MoU berakhir, tampaknya tidak banyak keinginan dari kedua pihak untuk menghidupkannya kembali. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dalam keterangannya kepada kantor berita semi-resmi ISNA pada Sabtu, menolak penyebutan Nota Kesepahaman Islamabad sebagai gencatan senjata.
Menurut Araghchi, kesepakatan tersebut merupakan "akhir dari perang". Ia menegaskan bahwa "kami tidak memiliki gencatan senjata yang sekarang harus diperpanjang."
Di sisi lain, Araghchi mengatakan perundingan dengan Oman terkait Selat Hormuz masih berlangsung. Namun, ia menekankan bahwa kesepakatan hanya mungkin dicapai jika solusi politik berhasil ditemukan.