home masjid

Bukti Al-Qur'an Wahyu Ilahi Melalui Tantangan Terbuka

Jum'at, 21 Agustus 2026 - 08:20 WIB
Bukti Al-Qur'an Wahyu Ilahi Melalui Tantangan Terbuka
Dalam diskursus keislaman, kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu Ilahi bukan sekadar penyampaian, melainkan sebuah realitas yang dapat dibuktikan secara rasional. Ayat ke-23 dari Surat Al-Baqarah hadir sebagai tantangan terbuka (tahaddī) kepada pihak-pihak yang meragukan kebenaran wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw.

‎‎وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍۢ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍۢ مِّن مِّثْلِهِۦ وَٱدْعُوا۟ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ‎‎

"Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar." (QS Al-Baqarah: 23).

‎‎Menurut Imam al-Ṭabarī, ayat ini merupakan bentuk hujjah atau argumentasi langsung dari Allah SWT untuk meluruskan keraguan orang-orang musyrik, munafik, hingga Ahlulkitab.

Penafsiran ini makin diperjelas oleh Imam al-Baghawī yang menerangkan penggunaan kata in (jika) sebagai bentuk penegasan bahwa Allah SWT telah mengetahui secara pasti kebimbangan dalam hati mereka, sekaligus menyematkan sebutan 'abdina (hamba Kami) kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai simbol kemuliaan tertinggi seorang makhluk di sisi-Nya.‎‎

Sejalan dengan itu, Ibnu Katsīr menegaskan bahwa penggalan ayat ini menjadi bagian penting dari penetapan kenabian tepat setelah Allah SWT mengukuhkan keesaan-Nya.‎

Tantangan untuk mendatangkan satu surat yang semisal Al-Qur'an sejatinya merupakan sebuah perintah yang bertujuan untuk menunjukkan ketidakmampuan manusia (amr ta'jiz). Mengenai frasa "semisal dengannya" Imam al-Baghawī memaparkan dua sudut pandang penafsiran yang saling melengkapi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya