Mesir Kuasai Hampir Setengah Pasar Sukuk Afrika Senilai Rp109 Triliun
Sururi al faruq
Jum'at, 21 Agustus 2026 - 09:12 WIB
(Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Riyadh; Mesir menyumbang 48 persen dari total sukuk yang beredar di Afrika, menjadikannya pasar terbesar di benua tersebut. Hal ini didorong oleh reformasi regulasi dan hubungan ekonomi yang semakin erat dengan Dewan Kerja Sama Teluk, menurut Fitch Ratings.
Dalam laporan terbarunya, lembaga pemeringkat kredit itu menyebutkan bahwa sukuk Afrika menembus $7 miliar (sekitar Rp109 triliun) yang beredar pada Agustus, naik 16 persen dibandingkan tahun lalu.
Fitch menyatakan sukuk mulai muncul sebagai sumber pendanaan alternatif bagi beberapa negara di benua Afrika, memungkinkan mereka mendiversifikasi sumber pendanaan dan menarik permintaan dari bank-bank Islam GCC dan Afrika, dana investasi syariah, serta lembaga multilateral.
Namun, pasar ini masih belum berkembang, dengan regulasi pendukung yang minim di sebagian besar negara Afrika serta lembaga keuangan syariah domestik yang masih kecil atau bahkan tidak ada di banyak pasar.
"Sukuk sovereign Mesir pada 2023, dan kemudian berkembang menjadi penerbit rutin dan substansial untuk sukuk dolar AS menyusul reformasi regulasi dan hubungan yang semakin erat dengan GCC. Mesir juga menerbitkan sukuk mata uang lokal pertamanya pada 2025, dan melanjutkan penerbitan hingga paruh pertama 2026," ujar Fitch.
Mereka menambahkan: "Hal ini membantu menarik permintaan dari bank-bank Islam Mesir, yang memegang sekitar 5 persen aset sistem perbankan dan sebelumnya menghadapi kurangnya pilihan investasi syariah."
Laporan tersebut menambahkan bahwa utang pemerintah Mesir secara umum akan turun menjadi 77 persen dari PDB pada tahun fiskal 2027, yang dapat memengaruhi pasokan sukuk.
Dalam laporan terbarunya, lembaga pemeringkat kredit itu menyebutkan bahwa sukuk Afrika menembus $7 miliar (sekitar Rp109 triliun) yang beredar pada Agustus, naik 16 persen dibandingkan tahun lalu.
Fitch menyatakan sukuk mulai muncul sebagai sumber pendanaan alternatif bagi beberapa negara di benua Afrika, memungkinkan mereka mendiversifikasi sumber pendanaan dan menarik permintaan dari bank-bank Islam GCC dan Afrika, dana investasi syariah, serta lembaga multilateral.
Namun, pasar ini masih belum berkembang, dengan regulasi pendukung yang minim di sebagian besar negara Afrika serta lembaga keuangan syariah domestik yang masih kecil atau bahkan tidak ada di banyak pasar.
"Sukuk sovereign Mesir pada 2023, dan kemudian berkembang menjadi penerbit rutin dan substansial untuk sukuk dolar AS menyusul reformasi regulasi dan hubungan yang semakin erat dengan GCC. Mesir juga menerbitkan sukuk mata uang lokal pertamanya pada 2025, dan melanjutkan penerbitan hingga paruh pertama 2026," ujar Fitch.
Mereka menambahkan: "Hal ini membantu menarik permintaan dari bank-bank Islam Mesir, yang memegang sekitar 5 persen aset sistem perbankan dan sebelumnya menghadapi kurangnya pilihan investasi syariah."
Laporan tersebut menambahkan bahwa utang pemerintah Mesir secara umum akan turun menjadi 77 persen dari PDB pada tahun fiskal 2027, yang dapat memengaruhi pasokan sukuk.