Mesir Rencanakan Transformasi Besar-Besaran Subsidi Pangan
Beri Bantuan Tunai untuk 60 Juta Jiwa, dengan Tambahan Daging, Susu, Telur, dan Unggas
Sururi al faruq
Jum'at, 21 Agustus 2026 - 09:15 WIB
(Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Mesir; Mesir bersiap melakukan perombakan besar-besaran terhadap salah satu program bantuan pangan terbesar di Afrika. Rencananya, sistem alokasi barang bersubsidi tetap akan diubah menjadi bantuan berbasis tunai, sekaligus memperluas jenis bahan pangan yang tersedia bagi sekitar 60 juta orang.
Daftar bahan pangan yang diperluas akan mencakup daging, biji-bijian, teh, susu, lentil, telur, kacang-kacangan, dan unggas, di samping kebutuhan pokok seperti minyak goreng, gula, dan pasta yang selama ini sudah tersedia melalui sistem kartu jatah (kupon) negara.
Kabinet Mesir mengumumkan rencana ini pada Rabu (19/8) sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memberikan kendali lebih besar kepada rumah tangga dalam memilih kebutuhan belanja mereka, sekaligus mengurangi pemborosan dan kebocoran dalam rantai distribusi.
Dalam sistem yang berjalan saat ini, setiap penerima manfaat mendapatkan jatah sebesar 50 pound Mesir (sekitar Rp12.500) setiap bulan melalui kartu ransum. Jatah tersebut hanya bisa dibelanjakan untuk sejumlah barang bersubsidi terbatas di gerai-gerai yang ditunjuk negara.
Menteri Pasokan dan Perdagangan Dalam Negeri, Sherif Farouk, mengatakan bahwa para penerima manfaat akan menerima nilai tunai dari barang tersebut, bukan alokasi barang fisik tetap. Hal ini diharapkan meningkatkan kemampuan mereka memilih produk sesuai kebutuhan rumah tangga masing-masing.
Namun, pemerintah belum mengumumkan kapan sistem baru ini akan dimulai, berapa besaran yang akan diterima setiap penerima, atau apakah pembayaran akan disesuaikan secara berkala mengikuti perubahan harga pangan.
Belum jelas pula apakah transisi ini akan dimulai secara nasional atau melalui program percontohan di wilayah tertentu.
Daftar bahan pangan yang diperluas akan mencakup daging, biji-bijian, teh, susu, lentil, telur, kacang-kacangan, dan unggas, di samping kebutuhan pokok seperti minyak goreng, gula, dan pasta yang selama ini sudah tersedia melalui sistem kartu jatah (kupon) negara.
Kabinet Mesir mengumumkan rencana ini pada Rabu (19/8) sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memberikan kendali lebih besar kepada rumah tangga dalam memilih kebutuhan belanja mereka, sekaligus mengurangi pemborosan dan kebocoran dalam rantai distribusi.
Dalam sistem yang berjalan saat ini, setiap penerima manfaat mendapatkan jatah sebesar 50 pound Mesir (sekitar Rp12.500) setiap bulan melalui kartu ransum. Jatah tersebut hanya bisa dibelanjakan untuk sejumlah barang bersubsidi terbatas di gerai-gerai yang ditunjuk negara.
Menteri Pasokan dan Perdagangan Dalam Negeri, Sherif Farouk, mengatakan bahwa para penerima manfaat akan menerima nilai tunai dari barang tersebut, bukan alokasi barang fisik tetap. Hal ini diharapkan meningkatkan kemampuan mereka memilih produk sesuai kebutuhan rumah tangga masing-masing.
Namun, pemerintah belum mengumumkan kapan sistem baru ini akan dimulai, berapa besaran yang akan diterima setiap penerima, atau apakah pembayaran akan disesuaikan secara berkala mengikuti perubahan harga pangan.
Belum jelas pula apakah transisi ini akan dimulai secara nasional atau melalui program percontohan di wilayah tertentu.