Konsep Kalimatin Sawa: Seruan Tauhid dan Dialog Kebangsaan Lintas Agama
Ahmad zuhdi
Jum'at, 21 Agustus 2026 - 18:05 WIB
Konsep Kalimatin Sawa: Seruan Tauhid dan Dialog Kebangsaan Lintas Agama
Surat Āli ʿImrān ayat 64 turun sebagai respons atas dinamika dialog antara Nabi Muhammad Saw dengan kelompok Ahlulkitab. Mufasir Al-Baghawī mengisahkan bahwa ayat ini dilatarbelakangi oleh kedatangan delegasi Kristen Najran ke Madinah yang terlibat perdebatan dengan kaum Yahudi mengenai garis keagamaan Nabi Ibrāhīm.
Ketika kedua kelompok tersebut justru menuduh Nabi Muhammad Saw ingin disembah layaknya mereka mengagungkan tokoh agama masing-masing, Allah menepis perselisihan tersebut dengan menurunkan perintah untuk menyeru mereka pada titik temu yang adil dan setara (kalimatin sawāʾ).
قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍۢ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًۭٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS Ali Imran: 64).
Penggalan awal ayat, "Qul yā ahlal-kitābi taʿālaw ilā kalimatin sawāʾin bainanā wa bainakum", menjadi pintu masuk seruan dialog yang egaliter. Menurut Al-Ṭabarī, frasa kalimatin sawāʾ bermakna kalimat ʿadl atau kalimat yang memuat keadilan dan kesetaraan untuk mengesakan Allah tanpa menyembah selain-Nya. Ibn Katsīr dan Al-Saʿdī menambahkan bahwa seruan ini mencakup seluruh penganut Taurat dan Injil untuk berdiri di atas landasan bersama (common ground) yang sejatinya telah disepakati oleh seluruh nabi dan rasul.
Baca Juga:Masjid Sejuta Pemuda dan Tren Baru Inovasi Dakwah Anak Muda
Substansi utama dari kalimat yang setara tersebut ditegaskan pada kalimat berikutnya: "Allā naʿbuda illallāha wa lā nusyrika bihī syaiʾā". Ibn Katsīr menjelaskan bahwa penegasan ini menuntut kemurnian ibadah hanya kepada Allah dengan menolak segala bentuk kemusyrikan, baik berupa patung, salib, berhala, maupun thagut. Prinsip murni ini selaras dengan misi universal para rasul sebagaimana terekam dalam Surat Al-Anbiyā' ayat 25 dan Surat An-Naḥl ayat 36 untuk senantiasa memprioritaskan ketundukan penuh kepada Sang Pencipta.
Ketika kedua kelompok tersebut justru menuduh Nabi Muhammad Saw ingin disembah layaknya mereka mengagungkan tokoh agama masing-masing, Allah menepis perselisihan tersebut dengan menurunkan perintah untuk menyeru mereka pada titik temu yang adil dan setara (kalimatin sawāʾ).
قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍۢ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًۭٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS Ali Imran: 64).
Penggalan awal ayat, "Qul yā ahlal-kitābi taʿālaw ilā kalimatin sawāʾin bainanā wa bainakum", menjadi pintu masuk seruan dialog yang egaliter. Menurut Al-Ṭabarī, frasa kalimatin sawāʾ bermakna kalimat ʿadl atau kalimat yang memuat keadilan dan kesetaraan untuk mengesakan Allah tanpa menyembah selain-Nya. Ibn Katsīr dan Al-Saʿdī menambahkan bahwa seruan ini mencakup seluruh penganut Taurat dan Injil untuk berdiri di atas landasan bersama (common ground) yang sejatinya telah disepakati oleh seluruh nabi dan rasul.
Baca Juga:Masjid Sejuta Pemuda dan Tren Baru Inovasi Dakwah Anak Muda
Substansi utama dari kalimat yang setara tersebut ditegaskan pada kalimat berikutnya: "Allā naʿbuda illallāha wa lā nusyrika bihī syaiʾā". Ibn Katsīr menjelaskan bahwa penegasan ini menuntut kemurnian ibadah hanya kepada Allah dengan menolak segala bentuk kemusyrikan, baik berupa patung, salib, berhala, maupun thagut. Prinsip murni ini selaras dengan misi universal para rasul sebagaimana terekam dalam Surat Al-Anbiyā' ayat 25 dan Surat An-Naḥl ayat 36 untuk senantiasa memprioritaskan ketundukan penuh kepada Sang Pencipta.