AS Perluas Sanksi Iran, Negara dan Perusahaan yang Masih Berbisnis Terancam
Tim langit 7
Selasa, 25 Agustus 2026 - 05:02 WIB
(Dok: Ilustrasi Langit7.id)
LANGIT7T.ID-Jakarta; Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) diperkirakan memperluas cakupan sanksi sekunder terhadap entitas dan negara yang masih memiliki hubungan bisnis dengan Iran. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintahan Presiden Donald Trump untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Seorang sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa Departemen Keuangan AS akan mengumumkan perluasan cakupan sanksi pada Senin. Sumber itu berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang menyampaikan informasi tersebut kepada publik.
Langkah tersebut ditujukan sebagai peringatan terakhir kepada negara-negara yang masih menjalin hubungan bisnis dengan Iran agar memutus hubungan tersebut. Tekanan itu diharapkan dapat mendorong berakhirnya konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan dan menyebabkan Selat Hormuz serta jalur ekspor energi dari kawasan Teluk tersendat.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent diperkirakan akan menyampaikan rincian lebih lanjut mengenai kebijakan terhadap Iran dalam konferensi pers pada pukul 13.00 EDT (17.00 GMT).
Menurut sumber tersebut, Bessent juga akan memberikan gambaran lebih luas mengenai kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran yang sebelumnya dia dan Trump sebut sebagai “economic D-Day”. Bessent diperkirakan akan menegaskan kepada berbagai negara bahwa mereka harus memilih untuk berpihak kepada AS atau menghadapi risiko perusahaan dan entitas penting di negara mereka diputus dari sistem keuangan berbasis dolar AS.
Pekan lalu, Bessent menyebut tindakan terhadap Iran sebagai “sanksi terberat dalam sejarah”. Menurutnya, kebijakan tersebut, bersama blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, akan mengurangi kebutuhan untuk melancarkan operasi militer “kinetik” baru terhadap Iran.
Perang yang dilancarkan Trump terhadap Iran telah mendorong harga energi di seluruh dunia dan akan segera memasuki bulan keenam. Meskipun pertempuran sengit telah mereda, upaya diplomatik untuk mengakhiri perang terhenti. Pengiriman minyak dan bahan mentah melalui Selat Hormuz juga masih terblokir sehingga harga energi tetap tinggi.
Seorang sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa Departemen Keuangan AS akan mengumumkan perluasan cakupan sanksi pada Senin. Sumber itu berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang menyampaikan informasi tersebut kepada publik.
Langkah tersebut ditujukan sebagai peringatan terakhir kepada negara-negara yang masih menjalin hubungan bisnis dengan Iran agar memutus hubungan tersebut. Tekanan itu diharapkan dapat mendorong berakhirnya konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan dan menyebabkan Selat Hormuz serta jalur ekspor energi dari kawasan Teluk tersendat.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent diperkirakan akan menyampaikan rincian lebih lanjut mengenai kebijakan terhadap Iran dalam konferensi pers pada pukul 13.00 EDT (17.00 GMT).
Menurut sumber tersebut, Bessent juga akan memberikan gambaran lebih luas mengenai kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran yang sebelumnya dia dan Trump sebut sebagai “economic D-Day”. Bessent diperkirakan akan menegaskan kepada berbagai negara bahwa mereka harus memilih untuk berpihak kepada AS atau menghadapi risiko perusahaan dan entitas penting di negara mereka diputus dari sistem keuangan berbasis dolar AS.
Pekan lalu, Bessent menyebut tindakan terhadap Iran sebagai “sanksi terberat dalam sejarah”. Menurutnya, kebijakan tersebut, bersama blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, akan mengurangi kebutuhan untuk melancarkan operasi militer “kinetik” baru terhadap Iran.
Perang yang dilancarkan Trump terhadap Iran telah mendorong harga energi di seluruh dunia dan akan segera memasuki bulan keenam. Meskipun pertempuran sengit telah mereda, upaya diplomatik untuk mengakhiri perang terhenti. Pengiriman minyak dan bahan mentah melalui Selat Hormuz juga masih terblokir sehingga harga energi tetap tinggi.