Memahami Bahasa Cinta Anak, Mengapa Guru Perlu Memahami Perilaku di Balik Perilaku anak Didik?
Tim langit 7
Ahad, 30 Agustus 2026 - 10:28 WIB
Dosen Fak Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta DR.Siti Nurina Hakim. (Dok: Istimewa)
Oleh: DR.Siti Nurina Hakim
LANGIT7.ID-Guru perlu membaca "perilaku di balik perilaku" karena tindakan luar anak hanyalah puncak gunung es dari kebutuhan atau emosi dasar yang belum terpenuhi. Memahami alasan di balik aksi anak didik membantu guru memberikan solusi yang tepat sasaran, bukan sekadar memberikan hukuman
Di ruang kelas pendidikan anak usia dini, perilaku anak sering kali menjadi persoalan yang tidak sederhana. Seorang anak mudah menangis, anak lain suka mengganggu teman, ada yang gemar berkata kasar, memukul atau mencubit, sementara anak lainnya cenderung menarik diri dan tidak mau bergaul. Bagi guru, perilaku tersebut tentu membutuhkan respons. Persoalannya, respons seperti apa yang paling tepat? Selama ini, perilaku anak yang dianggap bermasalah sering kali ditempatkan dalam kerangka disiplin. Anak dinasihati, ditegur, diberi peringatan, bahkan tidak jarang dibiarkan karena guru merasa tidak lagi mampu menghadapinya. Padahal, perilaku anak tidak selalu dapat dipahami hanya dari apa yang tampak di permukaan. Di balik perilaku terdapat pengalaman, kebutuhan, emosi, serta cara anak berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Dalam perspektif psikologi perkembangan, masa anak usia dini merupakan periode penting bagi perkembangan sosial dan emosional. Anak sedang belajar mengenali dan mengungkapkan emosi, mengendalikan dorongan, membangun hubungan dengan teman sebaya, serta memahami respons orang dewasa terhadap dirinya. Karena itu, kualitas hubungan antara anak dan guru menjadi salah satu unsur penting dalam lingkungan pendidikan.
Hubungan guru-anak yang positif dan suportif dapat memberikan rasa aman secara psikologis sekaligus mendukung perkembangan sosial-emosional dan keterlibatan anak dalam pembelajaran. Dalam konteks inilah konsep bahasa cinta atau love language menarik untuk diperkenalkan kepada guru. Bukan sebagai resep tunggal untuk menyelesaikan seluruh persoalan perilaku anak, melainkan sebagai salah satu perspektif untuk membantu guru memahami kebutuhan afeksi anak yang dapat diekspresikan dan diterima dengan cara berbeda.
Ketika Guru Berhadapan dengan Anak yang “Sulit”
Persoalan tersebut secara nyata ditemukan pada guru-guru Bustanul Athfal (BA) yang tergabung dalam Ikatan Guru Bustanul Athfal (IGABA). Dalam kegiatan pengabdian masyarakat, guru mengungkapkan berbagai kesulitan ketika menghadapi peserta didik.
LANGIT7.ID-Guru perlu membaca "perilaku di balik perilaku" karena tindakan luar anak hanyalah puncak gunung es dari kebutuhan atau emosi dasar yang belum terpenuhi. Memahami alasan di balik aksi anak didik membantu guru memberikan solusi yang tepat sasaran, bukan sekadar memberikan hukuman
Di ruang kelas pendidikan anak usia dini, perilaku anak sering kali menjadi persoalan yang tidak sederhana. Seorang anak mudah menangis, anak lain suka mengganggu teman, ada yang gemar berkata kasar, memukul atau mencubit, sementara anak lainnya cenderung menarik diri dan tidak mau bergaul. Bagi guru, perilaku tersebut tentu membutuhkan respons. Persoalannya, respons seperti apa yang paling tepat? Selama ini, perilaku anak yang dianggap bermasalah sering kali ditempatkan dalam kerangka disiplin. Anak dinasihati, ditegur, diberi peringatan, bahkan tidak jarang dibiarkan karena guru merasa tidak lagi mampu menghadapinya. Padahal, perilaku anak tidak selalu dapat dipahami hanya dari apa yang tampak di permukaan. Di balik perilaku terdapat pengalaman, kebutuhan, emosi, serta cara anak berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
Dalam perspektif psikologi perkembangan, masa anak usia dini merupakan periode penting bagi perkembangan sosial dan emosional. Anak sedang belajar mengenali dan mengungkapkan emosi, mengendalikan dorongan, membangun hubungan dengan teman sebaya, serta memahami respons orang dewasa terhadap dirinya. Karena itu, kualitas hubungan antara anak dan guru menjadi salah satu unsur penting dalam lingkungan pendidikan.
Hubungan guru-anak yang positif dan suportif dapat memberikan rasa aman secara psikologis sekaligus mendukung perkembangan sosial-emosional dan keterlibatan anak dalam pembelajaran. Dalam konteks inilah konsep bahasa cinta atau love language menarik untuk diperkenalkan kepada guru. Bukan sebagai resep tunggal untuk menyelesaikan seluruh persoalan perilaku anak, melainkan sebagai salah satu perspektif untuk membantu guru memahami kebutuhan afeksi anak yang dapat diekspresikan dan diterima dengan cara berbeda.
Ketika Guru Berhadapan dengan Anak yang “Sulit”
Persoalan tersebut secara nyata ditemukan pada guru-guru Bustanul Athfal (BA) yang tergabung dalam Ikatan Guru Bustanul Athfal (IGABA). Dalam kegiatan pengabdian masyarakat, guru mengungkapkan berbagai kesulitan ketika menghadapi peserta didik.