LANGIT7.ID-, Pontianak - Semakin membahayakannya dampak kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan, ribuan warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat menggelar shalat istisqa.
Shalat berjamaah tersebut dilakukan bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) Masjid Raya Mujahidin dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) melaksanakan salat istisqa di halaman Masjid Raya Mujahidin. Mereka memohon kepada Allah Swt agar diturunkannya hujan.
"Hari ini kita bersama ribuan warga melaksanakan salat istisqa dan berdoa bersama di Halaman Masjid Raya Mujahidin memohon hujan yang berkah," kata Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono di Pontianak, Sabtu (29/8), dilansir
Antara, Minggu (30/8/2026).
Baca juga: Mendagri Dampingi Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Kalimantan BaratIa menambahkan, pelaksanaan salat istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar masyarakat setelah kondisi kemarau berlangsung lebih dari dua bulan. "Mudah-mudahan semua ampunan dan doa masyarakat dikabulkan, sehingga hujan segera turun dan kondisi lingkungan kembali membaik," ujar Edi.
Salat meminta hujan itu dilakukan di tengah kondisi kualitas udara Kota Pontianak yang memburuk akibat kabut asap dan telah berada pada kategori berbahaya selama empat hari terakhir. Edi menduga memburuknya kualitas udara di Pontianak dipengaruhi asap dari wilayah lain yang terbawa angin menuju Kota Pontianak.
Kondisi tersebut menyebabkan kegiatan pembelajaran dihentikan sementara hingga cuaca dan kualitas udara membaik. Namun untuk pelayanan Pemerintah Kota Pontianak tetap berjalan.
"Kita pasti memberikan pelayanan di Pemkot. Tapi kan kita di ruangan. Kalau yang sakit ya melalui WFH," ujarnya.
Edi menegaskan Pemerintah Kota Pontianak telah menetapkan kondisi tersebut sebagai situasi darurat asap dan menyiapkan langkah penanganan untuk melindungi masyarakat. Pemkot mengimbau agar masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker jika terpaksa harus ke luar.
Baca juga: Tanggap Darurat Karhutla, TNI AL Bersama Tim Gabungan Padamkan Kebakaran Lahan di JambiSementara itu, dalam sepekan terakhir, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan, menyusul peningkatan titik panas dan sebaran asap.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto mengatakan, peningkatan aktivitas Karhutla terutama terpantau di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh minimnya curah hujan alami yang terjadi selama hampir sepekan terakhir sehingga memperbesar potensi kebakaran dan memperpanjang keberadaan asap di sejumlah wilayah.
"Kondisi Karhutla di Kalimantan memiliki karakteristik yang berbeda karena banyak terjadi di lahan gambut. Permukaan lahan yang terlihat sudah padam belum tentu bara di bawahnya benar-benar mati. Karena itu, hujan dengan intensitas yang cukup menjadi salah satu faktor penting untuk membantu membasahi kembali lahan gambut dan memadamkan bara yang masih tersimpan," ujar Suharyanto dilansir laman BNPB.
Untuk itu, BNPB melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai salah satu prioritas penanganan. Berdasarkan evaluasi teknis dan ketersediaan awan yang dilakukan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per Minggu (23/8), penyemaian awan menggunakan garam dapat kembali dilaksanakan secara intensif di wilayah Kalimantan.
(lsi)