Rupiah Tertekan, Dolar AS Menguat! Ada Kabar dari Timur Tengah yang Bikin Pasar Waspada
Nabil
Jum'at, 18 September 2026 - 15:26 WIB
Rupiah Tertekan, Dolar AS Menguat! Ada Kabar dari Timur Tengah yang Bikin Pasar Waspada
LANGIT7.ID-Jakarta; Rupiah kembali menghadapi tekanan di tengah penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global. Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut sejumlah faktor eksternal dan internal menjadi perhatian pasar pada perdagangan Jumat, 18 September 2026.
Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran. Pertempuran baru tersebut menambah risiko terhadap pasokan minyak, terutama setelah konflik sebelumnya telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz.
Namun, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada eskalasi konflik. Pasar justru mencermati kemungkinan Arab Saudi memulihkan sebagian aliran minyak melalui pipa Timur-Barat miliknya yang sempat mengalami kerusakan akibat serangan pesawat nirawak atau drone pada pekan sebelumnya.
Meski terdapat kemungkinan pemulihan aliran minyak, prospek pasokan masih berada dalam kondisi yang sangat tidak pasti.
Ketidakpastian semakin bertambah setelah Angkatan Laut Garda Revolusi Iran pada Jumat menyatakan sebuah kapal tanker berbendera Togo telah diserang ketika mencoba melakukan apa yang mereka sebut sebagai "pelayaran ilegal" melintasi Selat Hormuz. Pernyataan tersebut, dilaporkan oleh media pemerintah Iran.
Di tengah kondisi tersebut, perkembangan diplomasi juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasar.
Presiden Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa dirinya hampir mengambil keputusan besar mengenai kemungkinan kembali melancarkan aksi militer berskala besar terhadap Iran. Menurut Axios, Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman pada pekan depan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.
Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran. Pertempuran baru tersebut menambah risiko terhadap pasokan minyak, terutama setelah konflik sebelumnya telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz.
Namun, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada eskalasi konflik. Pasar justru mencermati kemungkinan Arab Saudi memulihkan sebagian aliran minyak melalui pipa Timur-Barat miliknya yang sempat mengalami kerusakan akibat serangan pesawat nirawak atau drone pada pekan sebelumnya.
Meski terdapat kemungkinan pemulihan aliran minyak, prospek pasokan masih berada dalam kondisi yang sangat tidak pasti.
Ketidakpastian semakin bertambah setelah Angkatan Laut Garda Revolusi Iran pada Jumat menyatakan sebuah kapal tanker berbendera Togo telah diserang ketika mencoba melakukan apa yang mereka sebut sebagai "pelayaran ilegal" melintasi Selat Hormuz. Pernyataan tersebut, dilaporkan oleh media pemerintah Iran.
Di tengah kondisi tersebut, perkembangan diplomasi juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasar.
Presiden Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa dirinya hampir mengambil keputusan besar mengenai kemungkinan kembali melancarkan aksi militer berskala besar terhadap Iran. Menurut Axios, Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman pada pekan depan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.