LANGIT7.ID-Jakarta; Rupiah kembali menghadapi tekanan di tengah penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global. Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut sejumlah faktor eksternal dan internal menjadi perhatian pasar pada perdagangan Jumat, 18 September 2026.
Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran. Pertempuran baru tersebut menambah risiko terhadap pasokan minyak, terutama setelah konflik sebelumnya telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz.
Namun, perhatian pasar tidak hanya tertuju pada eskalasi konflik. Pasar justru mencermati kemungkinan Arab Saudi memulihkan sebagian aliran minyak melalui pipa Timur-Barat miliknya yang sempat mengalami kerusakan akibat serangan pesawat nirawak atau drone pada pekan sebelumnya.
Meski terdapat kemungkinan pemulihan aliran minyak, prospek pasokan masih berada dalam kondisi yang sangat tidak pasti.
Ketidakpastian semakin bertambah setelah Angkatan Laut Garda Revolusi Iran pada Jumat menyatakan sebuah kapal tanker berbendera Togo telah diserang ketika mencoba melakukan apa yang mereka sebut sebagai "pelayaran ilegal" melintasi Selat Hormuz. Pernyataan tersebut, dilaporkan oleh media pemerintah Iran.
Di tengah kondisi tersebut, perkembangan diplomasi juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasar.
Presiden Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa dirinya hampir mengambil keputusan besar mengenai kemungkinan kembali melancarkan aksi militer berskala besar terhadap Iran. Menurut Axios, Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman pada pekan depan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.
Sementara itu, Tiongkok juga meningkatkan upaya diplomatik. Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi mendesak Washington dan Teheran untuk menahan diri serta membuka kembali Selat Hormuz.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga melakukan konsultasi dengan para pejabat Tiongkok dan Pakistan.
Sinyal The Fed dan Tekanan terhadap RupiahSelain konflik geopolitik dan pasokan minyak, kebijakan bank sentral Amerika Serikat turut menjadi perhatian pasar.
Kemudian disebutkan bahwa bank sentral AS mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%.
Kevin Warsh menyampaikan sikap hawkish dengan menyatakan inflasi masih terlalu tinggi. Ia juga menggambarkan kenaikan suku bunga tersebut sebagai langkah untuk mengurangi "dosis akomodasi", mengingat kondisi keuangan saat itu belum menunjukkan tanda-tanda pengetatan yang signifikan.
Warsh menambahkan bahwa pandangan tersebut "didukung luas oleh seluruh anggota Komite". Pernyataan ini mengisyaratkan kesiapan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Dari dalam negeri, kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Agustus 2026 juga menjadi perhatian.
Defisit APBN tercatat tetap terjaga di level 0,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit tersebut terjadi ketika pendapatan negara tercatat lebih rendah dibandingkan belanja.
Pendapatan negara mencapai Rp2.055,6 triliun atau 65,2% dari target dalam APBN 2026. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp2.295,7 triliun.
Dengan demikian, defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun atau 0,9% dari PDB. APBN tetap disebut kuat dengan keseimbangan primer positif sebesar Rp154 triliun dan defisit yang masih berada dalam batasan terkendali.
Angka defisit tersebut sebelumnya telah disampaikan Purbaya Yudhi Sadewa pada pekan sebelumnya.
Untuk keseluruhan tahun 2026, pemerintah memperkirakan defisit APBN berada di sekitar 2,85% dari PDB atau setara Rp734,3 triliun. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan target awal APBN yang sebesar 2,68% dari PDB.
Faktor lain yang kembali menjadi perhatian pasar adalah kenaikan harga minyak mentah dunia akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur.
Fenomena El Nino yang terjadi pada 2026 juga menjadi perhatian karena kondisi panas dan kering di sejumlah wilayah Indonesia meningkatkan risiko terhadap sektor pertanian, ketersediaan air hingga kebakaran hutan dan lahan.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga terus mengingatkan mengenai kondisi kemarau serta potensi kekeringan di berbagai wilayah hingga akhir 2026.
Lebih lanjut, El Nino disebut bukan hanya berkaitan dengan perubahan cuaca. Jika tidak diantisipasi dengan baik, fenomena tersebut dapat memberikan tekanan baru terhadap perekonomian Indonesia, terutama melalui jalur pangan dan inflasi.
Di tengah berbagai faktor tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan akhir pekan tercatat melemah tipis.
“Pada perdagangan pasar akhir pekan, mata uang rupiah ditutup melemah tipis 5 point sebelumnya sempat menguat 15 point dilevel Rp.17.758 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.753,” kata Ibrahim Assuaibi, Jumat (18/9/2026).
Untuk perdagangan Senin berikutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam rentang tertentu.
“Sedangkan untuk perdagangan senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp.17.750 - Rp.17.800,” ujar Ibrahim.
Sementara untuk perdagangan pekan depan secara keseluruhan, rupiah berada dalam kisaran Rp17.650 hingga Rp18.000.
Ibrahim juga mencantumkan sanggahan bahwa analisis tersebut merupakan pandangan pribadinya sebagai pengamat dan tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk maupun sektor transaksi terkait.
Ia juga mengingatkan bahwa transaksi valuta asing memiliki risiko tinggi dan keputusan transaksi berada di tangan masing-masing pihak.
(lam)