Webinar LANGIT7.ID: Kesadaran Digital Harus Ditangkap Santri dan Pesantren
Ahmad zuhdi
Rabu, 27 Oktober 2021 - 11:20 WIB
Direktur Akademi Kebudayaan Islam Jakarta, Husein Jafar Al-Hadar (kanan) saat tampil di Webinar Langit7.id Rabu (27/10).
Salah satu tantangan yang harus dijawab pondok pesantren dan santri adalah berpikir dan bertindak secara kontekstual atau sesuai perkembangan zaman. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, juga didorong adanya pandemi Covid-19, harus dihadapi pondok pesantren.
Ini agar nantinya, pondok pesantren dan santri bisa ikut dalam persaingan global. Apalagi salah satu kelebihan pondok pesantren dan santri adalah adanya pendidikan agama Islam yang kuat.
Direktur Akademi Kebudayaan Islam Jakarta, Husein Ja’far Al-Hadar menyampaikan, digital adalah realitas baru bagi masyarakat Indonesia. Setidaknya, kurang lebih dari satu dekade ini masyarakat Indonesia memasuki era digital, di mana jika masyarakat meleng sedikit saja, maka akan ketinggalan.
Baca juga:Webinar LANGIT7.ID: Membangkitkan Peran Santri di Era Digital
"Misalnya saya punya data dari 'We Are Social', pada 2019 menunjukkan keterhubungan orang Indonesia dengan internet masih 56 persen, tapi ternyata di 2020 73 persen orang Indonesia tersambung, bahkan saya memprediksi 2024, 90 persen lebih (masyarakat terhubung dengan internet). Tentu ini adalah relitas baru yang mengejutkan kita semua, ditambah lagi orang indonesia bukan secara kuantitas, tapi juga secara kualitas mereka sudah tersambung dan tumbuh," kata Husein dalam webinar LANGIT7, Rabu (27/10).
Masih merujuk pada data We Are Social, Husein menyebutkan hampir mayoritas masyarakat Indonesia menghabiskan waktunya 8,5 jam dalam sehari untuk berselancar di gawainya. Bahkan survei tersebut menyatakan, orang Indonesia membuka 54 kali gawainya tanpa ada pemberitahuan apa-apa.
"Dan itu secara kultural akan kita rasakan. Pada satu sisi tentu merupakan satu realitas baru di dunia digital yang perlu kita respon, karena di dalamnya ada tantangan dan juga peluang," ujar dia.
Ini agar nantinya, pondok pesantren dan santri bisa ikut dalam persaingan global. Apalagi salah satu kelebihan pondok pesantren dan santri adalah adanya pendidikan agama Islam yang kuat.
Direktur Akademi Kebudayaan Islam Jakarta, Husein Ja’far Al-Hadar menyampaikan, digital adalah realitas baru bagi masyarakat Indonesia. Setidaknya, kurang lebih dari satu dekade ini masyarakat Indonesia memasuki era digital, di mana jika masyarakat meleng sedikit saja, maka akan ketinggalan.
Baca juga:Webinar LANGIT7.ID: Membangkitkan Peran Santri di Era Digital
"Misalnya saya punya data dari 'We Are Social', pada 2019 menunjukkan keterhubungan orang Indonesia dengan internet masih 56 persen, tapi ternyata di 2020 73 persen orang Indonesia tersambung, bahkan saya memprediksi 2024, 90 persen lebih (masyarakat terhubung dengan internet). Tentu ini adalah relitas baru yang mengejutkan kita semua, ditambah lagi orang indonesia bukan secara kuantitas, tapi juga secara kualitas mereka sudah tersambung dan tumbuh," kata Husein dalam webinar LANGIT7, Rabu (27/10).
Masih merujuk pada data We Are Social, Husein menyebutkan hampir mayoritas masyarakat Indonesia menghabiskan waktunya 8,5 jam dalam sehari untuk berselancar di gawainya. Bahkan survei tersebut menyatakan, orang Indonesia membuka 54 kali gawainya tanpa ada pemberitahuan apa-apa.
"Dan itu secara kultural akan kita rasakan. Pada satu sisi tentu merupakan satu realitas baru di dunia digital yang perlu kita respon, karena di dalamnya ada tantangan dan juga peluang," ujar dia.