LANGIT7.ID, Jakarta - Salah satu tantangan yang harus dijawab pondok pesantren dan santri adalah berpikir dan bertindak secara kontekstual atau sesuai perkembangan zaman. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, juga didorong adanya pandemi Covid-19, harus dihadapi pondok pesantren.
Ini agar nantinya, pondok pesantren dan santri bisa ikut dalam persaingan global. Apalagi salah satu kelebihan pondok pesantren dan santri adalah adanya pendidikan agama Islam yang kuat.
Direktur Akademi Kebudayaan Islam Jakarta, Husein Ja’far Al-Hadar menyampaikan, digital adalah realitas baru bagi masyarakat Indonesia. Setidaknya, kurang lebih dari satu dekade ini masyarakat Indonesia memasuki era digital, di mana jika masyarakat meleng sedikit saja, maka akan ketinggalan.
Baca juga:
Webinar LANGIT7.ID: Membangkitkan Peran Santri di Era Digital"Misalnya saya punya data dari 'We Are Social', pada 2019 menunjukkan keterhubungan orang Indonesia dengan internet masih 56 persen, tapi ternyata di 2020 73 persen orang Indonesia tersambung, bahkan saya memprediksi 2024, 90 persen lebih (masyarakat terhubung dengan internet). Tentu ini adalah relitas baru yang mengejutkan kita semua, ditambah lagi orang indonesia bukan secara kuantitas, tapi juga secara kualitas mereka sudah tersambung dan tumbuh," kata Husein dalam webinar LANGIT7, Rabu (27/10).
Masih merujuk pada data We Are Social, Husein menyebutkan hampir mayoritas masyarakat Indonesia menghabiskan waktunya 8,5 jam dalam sehari untuk berselancar di gawainya. Bahkan survei tersebut menyatakan, orang Indonesia membuka 54 kali gawainya tanpa ada pemberitahuan apa-apa.
"Dan itu secara kultural akan kita rasakan. Pada satu sisi tentu merupakan satu realitas baru di dunia digital yang perlu kita respon, karena di dalamnya ada tantangan dan juga peluang," ujar dia.
Baca juga:
Pesantren Goes Digital, Kemenag: Ini Suatu KeniscayaanDi tengah realitas ini, menurut dia, yang paling penting adalah kesadaran bahwa dunia sudah tumbuh dan pertumbuhan ini berjalan sangat cepat. Jika pertumbuhan ke era cetak membutuhkan waktu tiga abad, sementara pertumbuhan digital ini sangat cepat, bahkan sesuatu yang dulunya dianggap wah seperti televisi, kini sudah seperti alat konvensional.
"Karena itu kesadaran ini harus segera ditangkap oleh kalangan kyai, santri, dan pesantren. Belum lagi ditambah realitas lain, yaitu bonus demografi yang akan dihadapi pada 2040," katanya.
Ia menambahkan bahwa digital identik dengan anak muda di rentang usia 18-36 tahun. Maka, mayoritas penduduk Indonesia di 2040 adalah anak muda dan digital akan berada di ujung tombak. "Mereka juga akan menjadikan google sebagai guru mereka, tentu kalau peluang ini tidak dikelola dengan baik akan bahaya," katanya.
"Contoh yang gagal mengefektifkan bonus demografi adalah Afrika Selatan, sehingga mereka tidak mendapatkan apa-apa, sementara contoh yang berhasil adalah Korea Selatan," imbuhnya.
(sof)