Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home masjid detail berita

Pencerahan Timur: Warisan Suhrawardi untuk Dunia Modern

miftah yusufpati Jum'at, 19 September 2025 - 05:45 WIB
Pencerahan Timur: Warisan Suhrawardi untuk Dunia Modern
Dibunuh di Aleppo, warisan filsafat Suhrawardi justru bergaung hingga kini: menyeimbangkan sains dan spiritualitas dalam pencarian makna hidup. Ilustrasi: AI
LANGT7.ID- Lebih dari delapan abad lalu, Syekh Syahabuddin Suhrawardi menggagas filsafat yang berporos pada cahaya. Bagi sebagian orang, filsafat filsuf Persia yang meninggal muda di Aleppo tahun 1191 ini dianggap sekadar elaborasi metafisik. Namun dalam perspektif yang lebih luas, pemikirannya merepresentasikan pergulatan panjang dunia Islam dalam menyatukan akal, intuisi, dan pengalaman spiritual. Pertanyaan besarnya: mengapa pemikiran seorang intelektual abad pertengahan ini masih penting bagi dunia sekarang?

Dalam Ḥikmat al-Ishrâq (Filsafat Pencerahan), Suhrawardi memaknai realitas sebagai hierarki cahaya. Konsep ini bukan hanya metafor religius, tetapi juga kritik terhadap pendekatan rasionalistik murni ala Avicenna. Pengetahuan tertinggi, menurutnya, tidak dicapai dengan silogisme semata, melainkan melalui “pengetahuan hadir”. Pengalaman langsung terhadap realitas.

Interpretasinya ini membuka perdebatan besar: Apakah akal cukup untuk memahami kebenaran, ataukah manusia butuh pengalaman batin? Dalam masyarakat modern yang dikuasai data, algoritma, dan kecerdasan buatan, pertanyaan ini kembali terasa relevan.

Baca juga: Jejak Tarekat Suhrawardi: Dari Keheningan Sufi ke Tren Meditasi Korporasi

Jejak kontroversi, gema hingga kini

Suhrawardi mendapat julukan al-Maqtūl (“yang dibunuh”), diduga karena gagasan-gagasannya dipandang mengancam ortodoksi agama dan politik pada masanya. Namun ironisnya, justru dari kematiannya lahir pengaruh intelektual yang panjang: dari Mulla Ṣadra di era Safawi hingga diskusi filsafat modern tentang epistemologi intuitif.

Kontroversi itu menegaskan bahwa setiap gagasan baru seringkali menghadapi resistensi. Dalam konteks kontemporer, Suhrawardi dapat dipandang sebagai simbol bagaimana pemikiran alternatif — meskipun dibungkam secara politik — tetap menemukan ruang hidup dalam diskursus intelektual.

Bagi akademisi seperti Mehdi Amin Razavi dan Hossein Ziai, karya-karya Suhrawardi tidak sekadar peninggalan sejarah, tetapi tawaran filosofis untuk menyeimbangkan sains dan spiritualitas. Jika Barat modern cenderung menekankan empirisme, maka Suhrawardi mengingatkan: pengalaman batin juga valid sebagai sumber pengetahuan.

Di era ketika manusia mencari makna di balik kemajuan teknologi, filsafat cahaya bisa dibaca sebagai seruan agar manusia tidak terjebak dalam “kegelapan rasionalitas kering” — sebuah kritik yang terasa segar di abad ke-21.

Baca juga: Kisah Sufi Suhrawardi: Burung dan Telur

Menghidupkan kembali “pencerahan Timur”

Interpretasi ulang Suhrawardi bukan sekadar nostalgia intelektual. Di tengah diskusi tentang Islam Nusantara, pluralisme, dan integrasi sains dengan spiritualitas, hikmah ishrâqiyyah dapat menjadi sumber inspirasi. Cahaya dalam pemikirannya bisa dimaknai ulang sebagai simbol inklusivitas, keterbukaan, dan pencarian makna lintas tradisi.

Dengan demikian, Suhrawardi tidak hanya berbicara kepada para filsuf atau sejarawan Islam, tetapi juga kepada siapa pun yang tengah mencari keseimbangan antara logika, etika, dan spiritualitas.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)