LANGIT7.ID, Jakarta - Pondok Pesantren di seluruh Indonesia baru saja merayakan Hari Santri pada 22 Oktober silam. Dalam rangka memaknai perayaan tersebut, Kementerian Agama mendorong pesantren untuk Goes Digital.
Kasubdit Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Kementerian Agama, Mahrus mengatakan, Pesantren Goes Digital adalah keniscayaan. Pesantren harus menjadi ujung tombak digitalisasi pendidikan Islam.
“Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua harus memegang nilai-nilai, ajaran, prinsip, tradisi pendidikan Islam yang sudah ada. Tapi, kita tidak bisa menafikkan tradisi baru yang menawarkan solusi baru terhadap ilmu pengetahuan,” kata Mahrus dalam Webinar Langit7.id, “Pesantren Goes Digital, Sebuah Keharusan”, Rabu (27/10/2021).
Mahrus mencontohkan bagaimana digitalisasi pesantren sangat berkontribusi pada penyebaran ilmu keagamaan. Misalnya digitalisasi kitab kuning karya ulama nusantara yang dilakukan para alumni pesantren.
“Ada alumni pesantren yang menginsiasi gerakan digitatalisasi turats ulama nusantara, itu anak muda yang sangat konsern terhadap digitalisasi karya-karya ulama nusantara. . Saat ini sudah ada sekitar 300 kitab yang sudah terdigital,” tuturnya.
Kementerian Agama terus menelurkan berbagai program agar proses digitalisasi pesantren berjalan maksimal. Belum lama ini, Kementerian mendorong digitalisasi pesantren dengan menganggarkan dana bantuan digitalisasi pesantren yang disalurkan dalam bentuk barang berupa satu set perangkat teknologi informasi dan komunikasi senilai Rp 50 juta.
Selain bantuan pendidikan, Kementerian Agama juga menginisiasi penyaluran beasiswa madrasah dan pesantren menggunakan aplikasi dompet digital dalam rangka meningkatkan penetrasi keuangan digital di kalangan pesantren. Dengan menggandeng perusahaan penyedia layanan dompet digital diharapkan dapat meningkatkan transparansi pengelolaan dana layanan pendidikan keagamaan.
(bal)