Tafsir At-Tur Ayat 21: Janji Allah Satukan Keluarga di Surga
Surat At-Tur ayat 21 berada di tengah-tengah rangkaian gambaran kenikmatan surga bagi orang-orang bertakwa yang dipaparkan pada ayat-ayat sebelumnya. Setelah Allah ﷻ melukiskan balasan kenikmatan bagi para mutaqin, ayat ini menyempurnakan kegembiraan tersebut dengan karunia yang sangat agung, yaitu menghubungkan keturunan orang-orang beriman dengan orang tua mereka di dalam surga.
وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍۢ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌۭ
Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (QS At-Tur: 21).
Karunia ini tetap diberikan sekalipun derajat amal sang anak berada di bawah derajat orang tuanya. Pada saat yang sama, ayat ini juga menegaskan prinsip keadilan Ilahi bahwa setiap jiwa tetap terikat pada apa yang diusahakannya sendiri. Al-Biqāʿī menjelaskan bahwa ayat ini hadir untuk mengikis kekhawatiran bahwa penggabungan anak-anak tersebut akan mengurangi pahala orang tua, sekaligus menegaskan prinsip bahwa tiada seorang pun yang memikul dosa orang lain.
Penggalan awal wal-lażīna āmanū wattaba'at-hum żurriyyatuhum bi'īmān memberitakan tentang orang-orang beriman yang diikuti oleh anak cucu mereka dalam keimanan. Al-Ṭabarī menukilkan penafsiran ulama salaf bahwa Allah ﷻ mengangkat derajat anak cucu yang beriman agar bisa berkumpul dengan orang tuanya di surga, sekalipun amalan mereka belum mencukupi untuk mencapai tingkatan tersebut.
Hal ini diberikan sebagai bentuk penghormatan serta kemuliaan bagi para orang tua yang beriman. Al-Baghawī memperinci bahwa cakupan kata żurriyyah meliputi anak-anak berukuran kecil maupun dewasa. Anak yang sudah dewasa dinilai berdasarkan keimanan personal mereka, sedangkan anak-anak yang masih kecil diikutkan pada status keimanan kedua orang tuanya.
Al-Saʿdī menambahkan bahwa karunia ini menjadi bagian dari kesempurnaan nikmat surga, di mana anak cucu yang menyusul dengan modal keimanan akan diikutkan kepada orang tua mereka, apalagi jika anak cucu tersebut memang beriman atas kesadaran diri mereka sendiri.