Tafsir Al-Baqarah Ayat 48: Pertanggungjawaban Diri di Hari Kiamat
Ayat ke-48 dari Surat Al-Baqarah ini hadir sebagai kelanjutan dari serangkaian nasihat Allah ﷻ kepada Bani Israil, yang diawali dengan perintah untuk mengingat berbagai nikmat-Nya lalu disusul dengan peringatan keras agar mereka menjaga diri dari azab hari kiamat. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Katsir, keterkaitan ini menunjukkan pola ketuhanan di mana ingatan akan kenikmatan disambung secara langsung dengan ancaman hukuman di hari kiamat.
وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًۭا لَّا تَجْزِى نَفْسٌ عَن نَّفْسٍۢ شَيْـًۭٔا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَٰعَةٌۭ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌۭ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ
Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. (QS Al-Baqarah: 48).
Keberadaan ayat ini sangatpenting karena mengukuhkan prinsip fundamental akidah Islam tentang tanggung jawab individu secara mutlak di hadapan Allah ﷻ, sekaligus menafikan segala bentuk pertolongan, syafaat, maupun tebusan bagi orang-orang kafir, yang kelak menjadi fondasi bagi pembahasan syafaat secara lebih rinci pada ayat-ayat berikutnya.
Secara tekstual, peringatan ini diawali dengan frasa واتقوا يوما yang bermakna perintah untuk menjaga diri dari azab hari kiamat. Al-Ṭabarī menjelaskan penggalan ini sebagai bentuk peringatan langsung dari Allah ﷻ kepada hamba-hamba-Nya agar hukuman-Nya tidak menimpa mereka pada hari tersebut. Sisi keindahan bahasa dan keagungan makna ayat ini diulas oleh al-Biqāʿī, yang menggarisbawahi bahwa Allah ﷻ tidak menyebutkan kata "azab" secara eksplisit, melainkan menggantikannya dengan kata "hari" sebagai bentuk pengagungan terhadap kedahsyatan hari kiamat sekaligus penegasan bahwa azab pada hari itu tidak dapat dihindari dengan tipu daya apa pun sebagaimana yang bisa dilakukan di dunia. Ibn Katsir turut menguatkan bahwa kata "hari" yang dimaksud secara tegas merujuk pada hari kiamat.
Selanjutnya, penggalan لا تجزي نفس عن نفس شيئا memberikan penegasan bahwa seseorang tidak akan dapat membela atau menanggung beban orang lain walau sedikit pun. Al-Baghawī menguraikan kata tajzī dalam beberapa cakupan makna, yaitu tidak mampu melunasi atau menunaikan hak kewajiban orang lain, tidak mencukupi, serta tidak sanggup menghilangkan kesulitan sekecil apa pun dari dahsyatnya hari kiamat.
Baca Juga:Tafsir Al-Baqarah Ayat 47: Nikmat dan Keutamaan Bani Israil pada Zamannya