Menurunkan Ego, Menyelamatkan Pasar: Mengapa Ekonom Harus Mawas Diri?
Ahmad zuhdi
Rabu, 30 September 2026 - 16:39 WIB
Ichwan A. Basri. Foto: Dok Pribadi.
Oleh: Ichwan A. Basri
Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, perdebatan klasik di ruang publik selalu berputar pada sumbu yang sama: mengapa Bank Sentral selalu dinilai behind the curve—terlambat satu langkah dalam menjinakkan inflasi atau menahan arus modal keluar (capital outflow)? Pasar modal mendikte, media massa mengecam, dan para teoretikus sibuk menunjuk hidung otoritas moneter. Ruang publik jadi ramai banget menuduh bank sentral terlambat bertindak bahkan ada yang bilang salah langkah.
Namun, jika kita mau menilik lebih dalam, kegagalan untuk bertindak secara preemptive (antisipatif) bukanlah sekadar kelemahan personal para pejabat bank sentral. Karena kalau tindakan preemptive ini benar-benar dilakukan, mbahnya monetaris, yaitu Milton Friedman saja tidak menganjurkan. Keterlambatan ini adalah sebuah keniscayaan struktural dari ilmu ekonomi itu sendiri. Ironisnya, alih-alih menerima keterbatasan ini dengan kerendahan hati, dunia ekonomi modern sering kali terjebak dalam ruang hampa formulanya sendiri, disandera oleh apa yang disebut sebagai kesombongan intelektual (intellectual hubris).
Jebakan Ruang Hampa Teori
Sejarah moneter dunia telah berulang kali memberikan pelajaran pahit tentang bagaimana teori-teori hebat dari para raksasa ekonomi runtuh ketika menabrak realitas di lapangan. Salah satu contoh paling mencolok adalah Milton Friedman dengan mazhab Monetarismenya.
Sebagai kritikus ulung The Fed, Friedman merumuskan bahwa bank sentral tidak akan pernah bisa melakukan penyetelan halus (fine-tuning) suku bunga tanpa memicu ketidakstabilan. Sebagai solusi, ia menawarkan "obat ajaib": matikan fungsi manipulasi suku bunga dan biarkan jumlah uang beredar tumbuh secara mekanis dan konstan seperti robot.
Namun, ketika teori indah di atas kertas ini diterapkan oleh Paul Volcker di AS dan Margaret Thatcher di Inggris pada awal 1980-an, yang terjadi adalah kekacauan. Variabel psikologi pasar, inovasi perbankan, dan kecepatan perputaran uang di dunia nyata ternyata jauh lebih liar dan tidak stabil daripada asumsi matematika Friedman di Universitas Chicago. Menargetkan jumlah uang secara kaku justru mencekik sektor riil dan memicu pengangguran massal. Di akhir hayatnya pada tahun 2003, Friedman dengan jujur terpaksa mengakui keterbatasan teorinya—sebuah momen mawas diri yang langka di menara gading akademis.
Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, perdebatan klasik di ruang publik selalu berputar pada sumbu yang sama: mengapa Bank Sentral selalu dinilai behind the curve—terlambat satu langkah dalam menjinakkan inflasi atau menahan arus modal keluar (capital outflow)? Pasar modal mendikte, media massa mengecam, dan para teoretikus sibuk menunjuk hidung otoritas moneter. Ruang publik jadi ramai banget menuduh bank sentral terlambat bertindak bahkan ada yang bilang salah langkah.
Namun, jika kita mau menilik lebih dalam, kegagalan untuk bertindak secara preemptive (antisipatif) bukanlah sekadar kelemahan personal para pejabat bank sentral. Karena kalau tindakan preemptive ini benar-benar dilakukan, mbahnya monetaris, yaitu Milton Friedman saja tidak menganjurkan. Keterlambatan ini adalah sebuah keniscayaan struktural dari ilmu ekonomi itu sendiri. Ironisnya, alih-alih menerima keterbatasan ini dengan kerendahan hati, dunia ekonomi modern sering kali terjebak dalam ruang hampa formulanya sendiri, disandera oleh apa yang disebut sebagai kesombongan intelektual (intellectual hubris).
Jebakan Ruang Hampa Teori
Sejarah moneter dunia telah berulang kali memberikan pelajaran pahit tentang bagaimana teori-teori hebat dari para raksasa ekonomi runtuh ketika menabrak realitas di lapangan. Salah satu contoh paling mencolok adalah Milton Friedman dengan mazhab Monetarismenya.
Sebagai kritikus ulung The Fed, Friedman merumuskan bahwa bank sentral tidak akan pernah bisa melakukan penyetelan halus (fine-tuning) suku bunga tanpa memicu ketidakstabilan. Sebagai solusi, ia menawarkan "obat ajaib": matikan fungsi manipulasi suku bunga dan biarkan jumlah uang beredar tumbuh secara mekanis dan konstan seperti robot.
Namun, ketika teori indah di atas kertas ini diterapkan oleh Paul Volcker di AS dan Margaret Thatcher di Inggris pada awal 1980-an, yang terjadi adalah kekacauan. Variabel psikologi pasar, inovasi perbankan, dan kecepatan perputaran uang di dunia nyata ternyata jauh lebih liar dan tidak stabil daripada asumsi matematika Friedman di Universitas Chicago. Menargetkan jumlah uang secara kaku justru mencekik sektor riil dan memicu pengangguran massal. Di akhir hayatnya pada tahun 2003, Friedman dengan jujur terpaksa mengakui keterbatasan teorinya—sebuah momen mawas diri yang langka di menara gading akademis.