home wirausaha syariah

Model Ekonomi Samuelson: Ketika Arus Lingkaran Barat Mengebiri Fitrah Manusia

Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:06 WIB
Ichwan A. Basri mengkritisi model circular flow of income yang dinilai mengabaikan dimensi spiritual manusia serta peran sedekah dan kepedulian sosial dalam sistem ekonomi.
Oleh : Ichwan A. Basri

LANGIT7.ID-Dalam setiap pengantar ilmu ekonomi makro, kita selalu disuguhi sebuah bagan legendaris: circular flow of income (arus lingkaran pendapatan). Model yang dipopulerkan oleh peraih Nobel, Paul Samuelson, ini digambarkan dengan begitu presisi dan elegan. Ia melukiskan bagaimana uang dan faktor produksi berputar tanpa henti antara Rumah Tangga, Perusahaan, Pemerintah, hingga Sektor Luar Negeri.

Model ini bisa ditarik secara global untuk melihat PDB suatu negara, atau diurai secara rinci hingga ke sirkulasi lembaga keuangan.

Sekilas, model ini tampak seperti mesin yang sempurna. Ketika industri lesu dan pengangguran melonjak, mekanisme pajak dan transfer pemerintah akan turun tangan sebagai pendorong. Sebaliknya, saat ekonomi mencapai titik puncak (peak), semua orang tampak bahagia dalam kondisi full employment.

Namun, jika kita bersedia menengok lebih dalam ke balik angka-angka statistik dan garis panah yang dingin itu, kita akan menemukan sebuah kekosongan filosofis yang akut. Model ekonomi Barat ini ternyata dibangun di atas fondasi yang sekuler, mekanistik, dan yang paling fatal: mengebiri fitrah terdalam manusia.

Monopoli Kebaikan oleh Negara

Mari kita bayangkan sebuah realitas di mana model jaring pengaman sosial (welfare state) milik Samuelson ini bekerja secara totalitas 100 persen. Ketika seorang anak yatim ditinggal mati oleh ibunya, sistem ini secara teori langsung bekerja. Negara memungut pajak yang tinggi dari masyarakat yang mampu, lalu menyalurkannya kembali dalam bentuk dana transfer atau santunan kematian. Secara administratif, anak tersebut terjamin.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya