LANGIT7.ID, Jakarta,- -
Pemerintah Singapura menyampaikan kekecewaan atas pernyataan
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan, yang menyinggung kontribusi hutan Indonesia sebagai sumber oksigen bagi negara tetangga di tengah persoalan
kabut asap lintas negara.
Pernyataan tersebut menuai kritik dari
Singapura dan Malaysia ketika masyarakat Asia Tenggara masih merasakan dampak kebakaran hutan dan lahan.
Baca juga: Kabut Asap Meluas, DPR Minta Layanan Kesehatan di Wilayah Terdampak DisiagakanMenteri Negara di Kementerian Pembangunan Digital dan Informasi
Singapura sekaligus Kementerian Kesehatan, Rahayu Mahzam, menegaskan bahwa komentar yang meminta
Singapura menerima
kabut asap karena memperoleh oksigen dari hutan Indonesia tidak mencerminkan pandangan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
“Kami juga kecewa dengan komentar bahwa Singapura harus menerima
jerebu karena mendapat oksigen daripada hutan Indonesia,” kata Rahayu, dikutip dari Berita Harian Singapura, Selasa (20/10/2026).
Rahayu mengakui masyarakat Singapura memiliki alasan untuk merasa resah terhadap kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan. Meski demikian, ia menilai pernyataan
Syahganda tidak bisa dianggap mewakili sikap seluruh rakyat Indonesia.
“Namun, dari reaksi yang terlihat, saya rasa ini tidak mewakili pandangan rakyat Indonesia,” ujarnya.
Sebelumnya pada 10 Oktober lalu,
Kabakom RI Syahganda Nainggolan mengeluarkan pernyataan bahwa kebakaran sebagai fenomena alam yang terjadi bukan karena kesalahan manusia. Syahganda juga menyinggung peran hutan Indonesia sebagai penghasil oksigen bagi negara-negara tetangga, termasuk Singapura dan Malaysia.
Baca juga: Malaysia Tutup Sekolah di 7 Wilayah Akibat Kabut Asap KarhutlaMenurutnya, ketika kabut asap tidak terjadi, Indonesia turut memasok oksigen bagi kawasan tersebut. Pernyataan itu tidak hanya mendapat respons dari Singapura, tetapi juga memicu kritik di Malaysia.
Anggota parlemen negara bagian Johor dari Partai Aksi Demokratik (DAP), Andrew Chen, mendesak Indonesia bertanggung jawab atas persoalan kabut asap dan menyampaikan permintaan maaf.
Chen menilai masyarakat Malaysia turut menanggung dampak pencemaran udara akibat kabut asap. Ia juga mengkritik pernyataan pejabat Indonesia yang dianggap meremehkan persoalan kesehatan masyarakat yang timbul akibat kondisi tersebut.
Kritik serupa disampaikan Menteri Senior Singapura yang juga menjabat Menteri Koordinator Keamanan Nasional dan Menteri Dalam Negeri, Kasiviswanathan Shanmugam, pada Senin (19/10/2026).
Shanmugam menilai pernyataan Syahganda tidak pantas disampaikan ketika kawasan Asia Tenggara masih menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan. Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan aktivitas sejumlah perusahaan yang melanggar peraturan di Indonesia.
Baca juga: Malaysia Gelar Hujan Buatan, Minta Izin Indonesia untuk Atasi Kabut AsapMenurut Shanmugam, masyarakat Indonesia sendiri merupakan pihak yang paling terdampak oleh kebakaran tersebut. Meski melontarkan kritik, Shanmugam turut mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto dalam menangani kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Langkah yang diapresiasi itu mencakup penggantian kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pelarangan praktik pembakaran di lahan gambut, serta keputusan menerima bantuan asing untuk memadamkan kebakaran.
Pemerintah Singapura juga menyatakan kesiapannya membantu Indonesia dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, Singapura menegaskan akan memanfaatkan instrumen hukum, regulasi, dan ekonomi terhadap perusahaan yang bertanggung jawab atas kabut asap lintas negara.
(est)