LANGIT7.ID-, Putrajaya- -
Pemerintah Malaysia resmi
menutup sekolah-sekolah di sejumlah wilayah pada Jumat (9/10/2026) akibat
kabut asap yang makin parah dari
kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Kondisi tersebut menyebabkan kualitas udara di sejumlah wilayah turun hingga masuk kategori tidak sehat.
Menteri Pendidikan Malaysia, Fadhlina Sidek, mengatakan
penutupan sekolah berlaku di beberapa wilayah, meliputi Johor, Melaka, Negeri Sembilan, dan Selangor.
Baca juga: Leonardo DiCaprio Angkat Bicara Soal Karhutla Indonesia, Soroti Nasib OrangutanKebijakan serupa juga diterapkan di Kuala Lumpur, Putrajaya yang merupakan pusat administrasi pemerintahan Malaysia, serta Distrik Rompin di Negara Bagian Pahang.
Informasi tersebut disampaikan Fadhlina melalui unggahan di akun
Facebook pada Kamis (8/10/2026).
Dilansir dari CNA, Fahdlina meminta seluruh departemen pendidikan negara bagian dan kantor pendidikan distrik untuk terus memantau perkembangan
kabut asap. Langkah cepat diminta dilakukan apabila kondisi di lapangan membutuhkan tindakan lebih lanjut.
“Saya telah meminta seluruh departemen pendidikan negara bagian dan kantor pendidikan distrik untuk terus memantau situasi
kabut asap dan segera mengambil tindakan apabila keadaan mengharuskannya,” ujar Fadhlina.
Fadhlina mengakui bahwa penutupan sekolah dapat memengaruhi rutinitas harian orang tua, termasuk pengaturan aktivitas dan kebutuhan pengasuhan anak.
Karena itu, pemerintah Malaysia berkomitmen mengumumkan keputusan penutupan sekolah lebih awal agar orang tua memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan kebutuhan keluarga.
Baca juga: ISPA Anak Meningkat, DPR: Respons Karhutla Harus Bergeser“Ke depannya, kami akan memastikan setiap keputusan mengenai penutupan sekolah diumumkan lebih awal agar orang tua memiliki cukup waktu untuk melakukan persiapan,” katanya.
Ia menegaskan, keselamatan dan kesehatan anak-anak, guru, serta seluruh warga di lingkungan pendidikan tetap menjadi prioritas utama pemerintah.
Berdasarkan data pemerintah Malaysia pada Jumat pagi, sebanyak 37 wilayah mencatat Indeks Pencemaran Udara (API) dalam kategori tidak sehat.
Dalam sistem indeks kualitas udara Malaysia, nilai API 101–200 dikategorikan tidak sehat. Sementara itu, nilai 201–300 masuk kategori sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 dikategorikan berbahaya.
(est)