home masjid

Menyingkap Mukjizat: Dari Peristiwa Sapi Betina Menuju Keyakinan Hari Kebangkitan

Jum'at, 23 Oktober 2026 - 16:37 WIB
Menyingkap Mukjizat: Dari Peristiwa Sapi Betina Menuju Keyakinan Hari Kebangkitan
Ayat ke-73 dari Surat al-Baqarah merupakan puncak narasi dari kisah panjang Bani Israil dan sapi betina yang dimulai sejak ayat 67. Setelah melewati perdebatan panjang dan pertanyaan berbelit-belit kepada Nabi Musa ﷺ mengenai kriteria sapi yang wajib disembelih, Allah ﷻ akhirnya memerintahkan mereka memukulkan sebagian anggota tubuh sapi tersebut ke jasad korban pembunuhan yang menjadi pangkal perselisihan.



فَقُلْنَا ٱضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْىِ ٱللَّهُ ٱلْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Lalu Kami berfirman: "Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!" Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti. (QS Al-Baqarah: 73).

Peristiwa ini memiliki bobot teologis yang sangat krusial karena mengandung dua pesan besar, yaitu bukti riil mukjizat penghidupan kembali orang mati serta korelasinya yang erat dengan doktrin hari kebangkitan. Syaikh al-Shanqīṭī dalam Aḍwāʾ al-Bayān menegaskan bahwa pembuktian pada satu jiwa ini menjadi dalil rasional yang tak terbantahkan atas kemampuan Allah ﷻ dalam menghidupkan seluruh umat manusia kelak di akhirat, sebagaimana penegasan-Nya bahwa penciptaan dan kebangkitan seluruh manusia bagi-Nya hanyalah seperti menghidupkan satu jiwa saja.

Mengenai analisis per penggalan ayat, perintah fazi-ribūhu biba‘ḍihā mengabadikan titah Allah ﷻ kepada Bani Israil untuk memukulkan bagian dari sapi betina yang telah disembelih ke jasad korban. Imam al-Ṭabarī dalam Jāmiʿ al-Bayān menjelaskan bahwa kata ganti (ḍamīr) "nya" (mudzakkar) merujuk pada mayat pria yang terbunuh, sedangkan "sebagiannya" (muannats) merujuk pada anggota tubuh sapi betina.

Imam al-Baghawī menambahkan adanya makna tersirat (iḍmār) dalam struktur ayat ini, yaitu "maka mereka memukulnya, lalu mayat itu hidup kembali". Terkait penentuan bagian tubuh sapi mana yang digunakan, Ibnu Katsīr memberikan catatan metodologis yang sangat mendasar dengan menegaskan bahwa mukjizat tetap terjadi dengan bagian mana pun dari sapi tersebut.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya