Firman Soebagyo Usulkan 20 Persen Anggaran Pertanian untuk Petani Santri
Ahmad zuhdi
Jum'at, 23 Oktober 2026 - 19:00 WIB
Firman Soebagyo Usulkan 20 Persen Anggaran Pertanian untuk Petani Santri
Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar MPR Firman Soebagyo, menegaskan bahwa petani dan pesantren memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga moral bangsa. Menurutnya, momentum Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober harus menjadi pengingat bagi pemerintah untuk memperkuat pemberdayaan petani dan pesantren.
“Tanpa petani, kita lapar. Tanpa pesantren, kita kehilangan arah moral bangsa,” ujar Firman dalam keterangannya , Jumat (22/10/2026).
Firman menilai, ketahanan nasional tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan pertahanan dan diplomasi, tetapi juga harus didukung kemandirian pangan serta penguatan karakter bangsa. Dalam konteks tersebut, pesantren dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya di sektor pertanian.
Ia mengusulkan agar pemerintah mengembangkan konsep lumbung pangan berbasis pesantren melalui dukungan pembiayaan, teknologi pertanian modern, serta pembangunan infrastruktur pascapanen.
Menurut Firman, lebih dari 36.000 pesantren di Indonesia berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ketahanan pangan nasional. Namun, ia menilai potensi tersebut perlu didukung kebijakan dan program pemerintah yang terarah agar memberikan manfaat nyata bagi petani, santri, dan masyarakat sekitar.
“Bayangkan jika negara hadir secara serius. Pesantren dapat menjadi kekuatan produksi pangan sekaligus pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat,” katanya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Firman mengusulkan tiga langkah strategis. Pertama, mendorong kedaulatan pangan berbasis pesantren dengan menjadikan pesantren sebagai produsen benih unggul dan mitra penyerapan hasil pertanian atau off-taker. Ia juga mengusulkan agar 20 persen anggaran Kementerian Pertanian dialokasikan untuk pemberdayaan petani santri.
“Tanpa petani, kita lapar. Tanpa pesantren, kita kehilangan arah moral bangsa,” ujar Firman dalam keterangannya , Jumat (22/10/2026).
Firman menilai, ketahanan nasional tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan pertahanan dan diplomasi, tetapi juga harus didukung kemandirian pangan serta penguatan karakter bangsa. Dalam konteks tersebut, pesantren dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya di sektor pertanian.
Ia mengusulkan agar pemerintah mengembangkan konsep lumbung pangan berbasis pesantren melalui dukungan pembiayaan, teknologi pertanian modern, serta pembangunan infrastruktur pascapanen.
Menurut Firman, lebih dari 36.000 pesantren di Indonesia berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ketahanan pangan nasional. Namun, ia menilai potensi tersebut perlu didukung kebijakan dan program pemerintah yang terarah agar memberikan manfaat nyata bagi petani, santri, dan masyarakat sekitar.
“Bayangkan jika negara hadir secara serius. Pesantren dapat menjadi kekuatan produksi pangan sekaligus pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat,” katanya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Firman mengusulkan tiga langkah strategis. Pertama, mendorong kedaulatan pangan berbasis pesantren dengan menjadikan pesantren sebagai produsen benih unggul dan mitra penyerapan hasil pertanian atau off-taker. Ia juga mengusulkan agar 20 persen anggaran Kementerian Pertanian dialokasikan untuk pemberdayaan petani santri.