Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Buya Dr Amirsyah Tambunan, menyerukan penguatan solidaritas kemanusiaan seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk mendukung keselamatan serta perlindungan perempuan dan anak-anak di Palestina. Seruan tersebut disampaikan dalam kegiatan Forum Perempuan Iman dan Kebebasan bertajuk “Dari Ibu Indonesia untuk Ibu Palestina” yang diselenggarakan oleh Islamic Dakwah Fund (IsDF) MUI bersama Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) MUI di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Jakarta, belum lama ini.
Dalam pembukaan arahannya, Buya Amirsyah menegaskan bahwa penderitaan yang dialami para ibu di Palestina bukan sekadar angka atau deretan statistik dalam laporan berita kemanusiaan. Di balik angka-angka tersebut, terdapat perjuangan nyata para ibu yang terus bertahan menjaga kehidupan anak-anak mereka di tengah krisis pangan, keterbatasan air bersih, ketiadaan layanan kesehatan, tempat bernaung, hingga terputusnya akses pendidikan.
“Kepedulian bukan hanya ikut merasa sedih. Kepedulian adalah kesediaan untuk hadir dan bertindak,” ujar Buya Amirsyah menekankan pentingnya langkah konkret bagi masyarakat Indonesia, dikutip laman MUI, Jumat (23/10/2026).
Lebih lanjut, Sekjen MUI menguraikan bahwa pembelaan dan solidaritas terhadap Palestina merupakan panggilan nurani sekaligus amanat konstitusi Republik Indonesia. Pembukaan UUD 1945 secara tegas mengamanatkan penghapusan segala bentuk penjajahan di atas dunia karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Landasan moral inilah yang menjadi pijakan bangsa Indonesia untuk terus menyuarakan perlindungan warga sipil serta terciptanya perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
Baca Juga: Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli, MUI Desak Pemerintah Ambil Sikap
Dalam tataran praktis, Buya Amirsyah mendorong agar dukungan publik diprioritaskan pada pemenuhan kebutuhan dasar perempuan dan anak-anak. Kebutuhan tersebut mencakup jaminan keselamatan, tempat bernaung yang layak, layanan kesehatan ibu hamil dan persalinan, pasokan pangan bergizi dan air bersih, perlengkapan sanitasi, kebutuhan bayi, serta pemenuhan martabat perempuan.
“Karena itu, kepedulian tidak cukup diwujudkan melalui ungkapan simpati, tetapi harus diterjemahkan menjadi bantuan yang tepat sasaran, berkelanjutan, dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Dari sudut pandang keagamaan, dia memaparkan bahwa kepedulian sosial ini berakar kuat pada nilai-nilai luhur ajaran Islam, yakni rahmah (kasih sayang), ta‘awun (saling menolong), ‘adl (keadilan), dan amanah (tanggung jawab). Mengutip Surah Al-Mā’idah ayat 2 yang memerintahkan manusia untuk saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, Buya Amirsyah menegaskan bahwa kepedulian ini merupakan bentuk keberpihakan murni pada nilai kemanusiaan dan keselamatan warga sipil, serta bukan instrumen untuk menumbuhkan kebencian terhadap pihak mana pun.
“Nilai agama harus menjadi kekuatan untuk merawat kemanusiaan, memperluas kepedulian, dan mendorong penyelesaian konflik secara adil dan bermartabat,” tegas Buya Amirsyah.
Sekjen MUI mengajak masyarakat luas untuk konsisten menjaga komitmen solidaritas dan tidak membiarkan warga Palestina berjuang sendirian. “Jarak geografis tidak boleh memutus ikatan kasih sayang, iman, dan tanggung jawab kemanusiaan,” pungkasnya.
Baca Juga: Trump Jadikan Nama Mohammad Bahan Candaan saat Pidato Kampanye
