LANGIT7.ID, Jakarta,- -
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan
candaan kontroversial tentang popularitas
nama Mohammad di kalangan Muslim. Ejekan tersebut dilempar Trump saat pidato kampanye di depan pendukung Partai Republik di Dalton, Georgia, Jumat (16/10/2026).
Dilansir dari
Times of India, Ahad (18/10/2026),
Trump menyebut
nama Mohammad sebagai pilihan saat seseorang tidak yakin dengan nama orang dari Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan saat dia berkampanye untuk kandidat Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
Baca juga: Ide Baru Trump, Ingin Namanya Dipakai untuk Samudra Atlantik atau Pasifik“Jika Anda ragu dengan nama seseorang dari Timur Tengah, sebut saja ‘Mohammad’,” ujar
Trump, sebagaimana dilaporkan Reuters.
“Anda punya peluang sekitar 65 persen. ‘Halo, Mohammad.’ Saya sudah melakukannya selama bertahun-tahun. Saya tidak pernah salah,” lanjutnya.
Nama Mohammad merupakan salah satu nama laki-laki yang paling umum di kalangan Muslim. Banyak keluarga Muslim menamai anak laki-laki mereka dengan nama tersebut untuk menghormati Nabi Muhammad.
Lelucon itu muncul ketika Trump membahas situasi politik Iran dalam sebuah rapat kampanye yang digelar di hanggar Bandara Kota Dalton, Georgia.
Trump menyatakan bahwa Iran merupakan satu-satunya negara yang tidak memiliki orang yang ingin menjadi presiden.
“Iran adalah satu-satunya negara yang tidak ada orang yang ingin menjadi presiden,” kata Trump.
Dia kemudian pura-pura bertanya kepada beberapa orang bernama Mohammad apakah mereka bersedia menduduki jabatan tersebut.
Baca juga: Trump Bertemu Pemimpin Arab-Muslim, Ada Rencana Dana US$10 Miliar di Tengah Perang IranSaat ini, jabatan Presiden Iran dipegang Masoud Pezeshkian, yang mulai menjabat pada 2024.
Menurut laporan Reuters, penonton yang hadir di acara kampanye tersebut memberikan respons yang cenderung datar terhadap lelucon Trump.
Trump Kerap Dikritik karena Retorika terhadap MuslimPernyataan Trump muncul di tengah kritik berulang dari kelompok pembela hak asasi manusia dan organisasi advokasi Muslim. Mereka menilai sejumlah pernyataan Trump menggambarkan Muslim, imigran, dan kelompok minoritas etnis secara negatif serta menjadikan mereka sasaran ejekan.
Retorika tersebut meningkat selama masa kampanye pemilihan paruh waktu, terutama ketika Trump menyinggung warga Amerika keturunan Somalia dan Muslim. Di antara tokoh yang menjadi sasaran komentarnya adalah Abdul El-Sayed, kandidat Muslim dari Partai Demokrat untuk Senat AS, serta Ilhan Omar, anggota DPR dari Partai Demokrat yang mewakili Minnesota dan datang ke Amerika Serikat sebagai pengungsi Somalia.
Dalam pidato yang sama, Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir. Pernyataan itu disampaikan tujuh bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran, yang salah satu tujuannya adalah melumpuhkan program nuklir negara tersebut.
Baca juga: Trump Ultimatum Iran di PBB: Damai atau 'Dimusnahkan'Laporan tahunan Council on American-Islamic Relations (CAIR) yang dirilis pada tahun ini mengaitkan peningkatan Islamofobia di Amerika Serikat, antara lain, dengan kebijakan pengetatan imigrasi serta tindakan terhadap aksi pro-Palestina selama masa jabatan kedua Trump.
Pernyataan Trump soal nama Mohammad pun kembali menyoroti perdebatan mengenai retorika politiknya terhadap komunitas Muslim di Amerika Serikat.
(est)