LANGIT7.ID-Jakarta; Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Iran dapat "dimusnahkan" jika tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa.
Dalam pidatonya, Trump juga berupaya membela keputusan perang dengan Iran. Ia menyebut konflik tersebut telah mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.
Trump memprediksi pemerintahannya akan mencapai kesepakatan damai dengan Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November. Ia juga menyerukan negara-negara lain bergabung dengan AS untuk mengisolasi Iran secara ekonomi guna memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.
"Saya punya keputusan besar yang harus dibuat. Apakah kesepakatan akan tercapai dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih besar dari sebelumnya?" kata Trump.
"Atau apakah saya memusnahkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang-orang serta negara-negara lain lagi?" lanjutnya.
Trump kemudian kembali menyinggung kemungkinan menghancurkan Iran jika tidak ada kesepakatan.
"Apakah saya mendorong mereka ke neraka tanpa kesempatan untuk bertahan hidup dan tanpa harapan akan kebesaran di masa depan atau generasi mendatang? Namun, saya percaya kita akan mencapai kesepakatan tepat setelah pemilu," ujarnya.
Pidato tersebut menjadi pembenaran terbaru yang disampaikan Trump terkait perang dengan Iran. Sebelumnya, ia telah menyebut sejumlah alasan atas serangan AS-Israel pada Februari, termasuk program nuklir Teheran, dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan, serta kemungkinan perubahan rezim.
Iran secara konsisten membantah bahwa negara tersebut berupaya mengembangkan senjata nuklir.
Di luar markas besar PBB, puluhan demonstran yang menentang pemerintah Iran berkumpul. Beberapa di antaranya membawa poster yang menyerukan kebebasan dan demokrasi serta mengecam kediktatoran.
"Saya percaya kita akan mencapai kesepakatan tepat setelah pemilu karena tidak masuk akal bagi mereka untuk tidak melakukannya. Mereka sedang menunggu untuk melihat bagaimana hasil saya dalam pemilu paruh waktu," kata Trump dalam pidatonya di Sidang Umum PBB.
Selain membela keputusan untuk menyerang Iran, Trump diperkirakan menggunakan pidatonya untuk mengkritik PBB. Menurut seorang pejabat Gedung Putih yang berbicara dengan syarat anonim, Trump akan menyoroti upaya pemerintahannya untuk mencegah organisasi tersebut dan lembaga internasional lainnya mencampuri kedaulatan AS atau mendorong agenda yang dianggapnya berhaluan kiri.
Tahun lalu, Trump memicu kontroversi melalui pidatonya yang bernada keras di PBB. Saat itu, ia mengatakan negara-negara lain sedang "menuju neraka" antara lain karena kebijakan iklim dan migrasi massal.
Pidato Trump membuka rangkaian diplomasi tingkat tinggi di PBB. Ia dijadwalkan bertemu dengan lebih dari selusin pemimpin dunia ketika perang di Timur Tengah dan Ukraina masih menguji agenda kebijakan luar negerinya.
Setelah menyampaikan pidato, Trump dijadwalkan bertemu dengan sedikitnya 11 pemimpin dunia, baik secara bilateral maupun dalam pertemuan kelompok.
Pada Selasa malam, Trump dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, pemimpin sementara Venezuela Delcy Rodriguez, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen, serta perwakilan negara-negara Teluk, yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, Bahrain, Kuwait, dan Qatar.
Pada malam harinya, Trump kemungkinan bertemu dengan puluhan pemimpin lainnya, meski hanya dalam waktu singkat, dalam acara jamuan para pemimpin dunia. Sehari sebelumnya, Trump telah bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Senin.
Penambahan agenda pertemuan Trump pada Selasa masih mungkin dilakukan.
(lam)