LANGIT7.ID-Jakarta; Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggelar pertemuan tertutup dengan para pemimpin Arab dan Muslim di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB pada Selasa, di tengah ketidakpastian yang masih membayangi perang Iran yang telah berlangsung hampir tujuh bulan.
Pertemuan tersebut berlangsung ketika para pemimpin negara-negara Teluk memperingatkan dampak berlanjutnya gangguan di Selat Hormuz dan Laut Merah. Gangguan itu telah membuat pasar energi global bergejolak dan menambah tekanan ekonomi terhadap kawasan tersebut.
Pertemuan dihadiri para pemimpin negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), serta pemimpin dan perwakilan dari sejumlah negara Arab dan Muslim, termasuk Mesir, Turki, Lebanon, Suriah, dan Irak.
AS dilaporkan mengusulkan pembentukan dana investasi senilai US$10 miliar bersama negara-negara Arab untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak dan hancur selama konflik.
Tiga orang yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada Financial Times bahwa pejabat pemerintahan Trump tengah membahas gagasan itu dengan para mitra regional menjelang pertemuan di PBB.
Dalam pernyataan publik sebelum pertemuan, Trump mengklaim telah mencapai "kesepakatan damai bersejarah" di Gaza dan menyoroti kampanye militer AS terhadap Iran.
Trump beberapa kali keluar dari naskah yang telah disiapkan. Pada satu kesempatan, ia menunjuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan berkata, "Teman saya dari Turki yang ada di sini, dia orang yang tangguh, jangan macam-macam dengannya ... dia orang yang luar biasa."
AS dan Iran Gelar Pembicaraan yang Disebut "Produktif"Trump juga menyinggung peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang. Ia menyebut pertemuan tidak langsung antara kedua pihak di New York sebagai pembicaraan yang "sangat produktif".
Media pemerintah Iran sebelumnya mengonfirmasi bahwa Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi ikut dalam pembicaraan tersebut. Menurut media Iran, keikutsertaan itu merupakan permintaan dari pemerintahan Trump.
Utusan Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, mewakili AS dalam pembicaraan yang berlangsung selama tiga jam. Pertemuan tersebut menjadi yang pertama antara kedua pihak sejak pertengahan Juni, setelah keduanya menyepakati gencatan senjata yang akhirnya gagal bertahan.
"Saya pikir ada banyak momentum bagi [para mediator] untuk mencapai kesepakatan," kata Trump.
Stasiun televisi pemerintah Iran mengatakan delegasi Iran tetap berpegang pada "posisi tegas" selama pembicaraan, termasuk tuntutan utama untuk mencabut blokade AS, mencairkan aset-aset Iran, serta mengakhiri perang secara permanen di seluruh kawasan.
Komentar positif Trump tersebut disampaikan setelah sebelumnya ia mengancam akan "memusnahkan" Iran dalam pidatonya di Majelis Umum PBB.
"Saya harus mengambil keputusan besar - apakah akan tercapai kesepakatan dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih besar?" kata Trump dalam pidatonya. Dalam kesempatan itu, hampir seluruh anggota delegasi Iran meninggalkan ruangan.
"Atau apakah saya memusnahkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan rakyat dan negara lagi? Apakah saya mendorong mereka ke neraka tanpa kesempatan untuk bertahan hidup?"
Seorang pejabat Iran sebelumnya pada hari yang sama menawarkan jalan keluar dengan mengatakan bahwa Teheran dapat membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya jika AS mencabut blokade, menurut Reuters.
Presiden Suriah: Pembicaraan dengan Israel Hampir Capai 90 PersenPresiden Suriah Ahmed al-Sharaa mengatakan pada Selasa bahwa pemerintahannya telah mencapai tahap akhir dalam perjanjian keamanan dengan Israel sebelum Tel Aviv keluar dari pembicaraan.
"Ada beberapa sesi negosiasi dengan Israel, dan kami hampir mencapai 90% kesepakatan," kata Sharaa dalam acara Atlantic Council di sela-sela pertemuan PBB.
Menurut dia, Israel kemudian menarik diri dari perundingan tersebut.
Setelah jatuhnya rezim Assad, Israel menginvasi wilayah selatan Suriah dan menghancurkan sebagian besar kemampuan militer negara tersebut. Dalam beberapa bulan berikutnya, pasukan pendudukan Israel melakukan serangkaian serangan di kota-kota selatan, menangkap warga setempat, serta menggunakan kekuatan militer.
"Kami masih terlibat dalam jalur [diplomatik] ini," kata Sharaa. "Namun, kami perlu melindungi keamanan dan hak-hak rakyat Suriah. Sebelum itu, kami tidak dapat berbicara tentang perdamaian."
Ketika ditanya mengenai keputusan Trump mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan yang diduduki, Sharaa menceritakan percakapan yang pernah ia sampaikan kepada presiden AS tersebut saat berkunjung ke Gedung Putih.
"Mengapa Anda tidak memberikan New Jersey kepada Israel? Anda tidak memiliki Dataran Tinggi Golan untuk memberikannya kepada mereka, tetapi Anda memiliki New Jersey," kata Sharaa, mengutip ucapannya kepada Trump.
(lam)