LANGIT7.ID-Jakarta; - Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar MPR Firman Soebagyo, menegaskan bahwa petani dan pesantren memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga moral bangsa. Menurutnya, momentum Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober harus menjadi pengingat bagi pemerintah untuk memperkuat pemberdayaan petani dan pesantren.
“Tanpa petani, kita lapar. Tanpa pesantren, kita kehilangan arah moral bangsa,” ujar Firman dalam keterangannya , Jumat (22/10/2026).
Firman menilai, ketahanan nasional tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan pertahanan dan diplomasi, tetapi juga harus didukung kemandirian pangan serta penguatan karakter bangsa. Dalam konteks tersebut, pesantren dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya di sektor pertanian.
Ia mengusulkan agar pemerintah mengembangkan konsep lumbung pangan berbasis pesantren melalui dukungan pembiayaan, teknologi pertanian modern, serta pembangunan infrastruktur pascapanen.
Menurut Firman, lebih dari 36.000 pesantren di Indonesia berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ketahanan pangan nasional. Namun, ia menilai potensi tersebut perlu didukung kebijakan dan program pemerintah yang terarah agar memberikan manfaat nyata bagi petani, santri, dan masyarakat sekitar.
“Bayangkan jika negara hadir secara serius. Pesantren dapat menjadi kekuatan produksi pangan sekaligus pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat,” katanya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Firman mengusulkan tiga langkah strategis. Pertama, mendorong kedaulatan pangan berbasis pesantren dengan menjadikan pesantren sebagai produsen benih unggul dan mitra penyerapan hasil pertanian atau off-taker. Ia juga mengusulkan agar 20 persen anggaran Kementerian Pertanian dialokasikan untuk pemberdayaan petani santri.
Kedua, memperkuat regenerasi petani melalui pendidikan dan pelatihan bagi kalangan santri. Ia mendorong generasi muda pesantren menguasai teknologi pertanian modern, termasuk penggunaan drone, Internet of Things (IoT), serta pengembangan hilirisasi produk pertanian.
Ketiga, mengembangkan diplomasi pangan melalui jaringan pesantren. Firman menilai Indonesia memiliki peluang memperluas pasar produk pertanian dan produk halal ke negara-negara Timur Tengah maupun pasar internasional lainnya.
Menurutnya, langkah tersebut dapat memperkuat posisi pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi masyarakat dan mitra pembangunan nasional.
Firman juga menyoroti tantangan ketahanan pangan di tengah perubahan iklim dan ketidakpastian pasokan pangan global. Karena itu, ia menilai strategi pembangunan pertanian perlu memberikan ruang lebih besar kepada petani kecil dan lembaga ekonomi berbasis komunitas, termasuk pesantren.
Ia mengingatkan agar pembangunan sektor pangan tidak hanya bertumpu pada proyek berskala besar, tetapi juga memperkuat kapasitas produksi masyarakat di tingkat desa.
“Jangan pernah tinggalkan petani dan pesantren. Kalau negara abai pada petani, kita akan menjadi bangsa pengimpor dan terjajah secara pangan. Kalau negara abai pada pesantren, kita akan menjadi bangsa yang kehilangan karakter dan moral,” tegasnya.
Pada peringatan Hari Santri Nasional 2026, Firman berharap kolaborasi pemerintah, pesantren, dan petani dapat menjadi bagian dari strategi mewujudkan kedaulatan pangan serta mendukung cita-cita Indonesia Emas 2045.
(zhd)