Kesadaran Digital, Alat Tebar Kebaikan Bukan Peralat Manusia
Ahmad zuhdi
Jum'at, 29 Oktober 2021 - 20:05 WIB
Direktur Akademi Kebudayaan Islam Jakarta, Husein Jafar Al-Hadar (kanan) saat tampil di Webinar Langit7.id Rabu (27/10).
Kesadaran menjadi poin utama dalam merespon perkembangan era digital saat ini. Karenanya, semua pihak penting untuk membangun kurikulum digital di masa sekarang ini.
"Kita diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang merdeka, sehingga apapun perkembangannya kita wajib ikut dan tetap menjaga diri kita sebagai muslim. Jadi, penting cara-cara hidup di era digital dengan cara-cara baru dilakukan, sehingga digital tetap menjadi alat untuk menebar kebaikan," kata Direktur Akademi Kebudayaan Islam Jakarta, Husein Ja’far Al-Hadar dalam webinar LANGIT7, dikutip Jumat (29/10).
Baca juga:Kominfo Beri Pelatihan Start-up Digital Bagi Pemuda Papua
"Bukan malah kita diperalat oleh digital, sehingga tidak menjadi orang merdeka dan bertentangan dengan visi kita sebagai manusia dan sebagai muslim," imbuhnya.
Menurut dia, di tengah era digitalisasi ini, penting bagaimana pesantren menyiapkan infrastruktur, baik di lingkungan pesantrenmaupun di luar pesantren kepada alumninya. Pesantren harus mempunyai perangkat software dan hardware.
"Saya pernah mengusulkan agar satu pesantren paling tidak mempunyai satu studio dan satu channel kanal YouTube. Pesantren harus merespon itu dengan membuka ruang bagi santrinya sejak dini dengan peralatan studio, sehingga ketika mereka keluar (lulus) tidak lagi meraba dakwah digitalnya harus seperti apa," katanya.
Namun, internal lingkungan pesantren juga memiliki aturan yang ketat. Misalnya, apakah santri dibolehkan memegang gawai, apakah Wifi boleh masuk pesantren dan dapat diakses oleh seluruh santri, dan lain sebagainya.
"Kita diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang merdeka, sehingga apapun perkembangannya kita wajib ikut dan tetap menjaga diri kita sebagai muslim. Jadi, penting cara-cara hidup di era digital dengan cara-cara baru dilakukan, sehingga digital tetap menjadi alat untuk menebar kebaikan," kata Direktur Akademi Kebudayaan Islam Jakarta, Husein Ja’far Al-Hadar dalam webinar LANGIT7, dikutip Jumat (29/10).
Baca juga:Kominfo Beri Pelatihan Start-up Digital Bagi Pemuda Papua
"Bukan malah kita diperalat oleh digital, sehingga tidak menjadi orang merdeka dan bertentangan dengan visi kita sebagai manusia dan sebagai muslim," imbuhnya.
Menurut dia, di tengah era digitalisasi ini, penting bagaimana pesantren menyiapkan infrastruktur, baik di lingkungan pesantrenmaupun di luar pesantren kepada alumninya. Pesantren harus mempunyai perangkat software dan hardware.
"Saya pernah mengusulkan agar satu pesantren paling tidak mempunyai satu studio dan satu channel kanal YouTube. Pesantren harus merespon itu dengan membuka ruang bagi santrinya sejak dini dengan peralatan studio, sehingga ketika mereka keluar (lulus) tidak lagi meraba dakwah digitalnya harus seperti apa," katanya.
Namun, internal lingkungan pesantren juga memiliki aturan yang ketat. Misalnya, apakah santri dibolehkan memegang gawai, apakah Wifi boleh masuk pesantren dan dapat diakses oleh seluruh santri, dan lain sebagainya.