Indonesia-Inggris Perkuat Ekonomi Hijau Melalui Pembangunan Rendah Karbon
Mahmuda attar hussein
Senin, 01 November 2021 - 09:30 WIB
Menteri Suharso bertemu dengan Menteri Pasifik dan Lingkungan Hidup Inggris Lord Zac Goldsmith. Foto Humas Bappenas
Dalam pertemuan bersama Menteri Pasifik dan Lingkungan Hidup Inggris Lord Zac Goldsmith, Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menegaskan komitmen Indonesia untuk implementasi Ekonomi Hijau, menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan, melalui programLow Carbon Development Initiative atau Pembangunan Rendah Karbon (PRK).
Dimulai sejak 2017, kerja sama Indonesia-Inggris dalam kerangka PRK kini memasuki fase transisi ke tahap kedua yang akan dimulai 2022 hingga 2025, dengan target lebih strategis dan berdampak jangka panjang.
“Kolaborasi Pemerintah Indonesia dan Inggris telah memberikan landasan yang kokoh bagi Indonesia untuk bergerak menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan melalui berbagai studi kebijakan, seperti food loss and waste, carbon tax, carbon pricing, efisiensi energi, serta keterkaitan antara keanekaragaman hayati dan perubahan iklim,” tutur Menteri Suharso di London, melalui keterangan tertulis, Senin (1/11).
Baca juga: Kerjasama Blue Ekonomi Indonesia-Swedia Sumber Pertumbuhuan Ekonomi Baru
Pada 2019, Kementerian PPN/Bappenas bersama konsorsium penelitian dan mitra pembangunan mengembangkan laporan “Perubahan Paradigma Menuju Perekonomian Hijau di Indonesia”.
Temuan kunci meliputi pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan dapat menghasilkan tingkat pertumbuhan PDB rata-rata enam persen per tahun, hingga strategi penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 43 persen pada 2030.
Kementerian PPN/Bappenas mengintegrasikan temuan tersebut ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, salah satunya dengan menjadikan pengurangan emisi gas rumah kaca sebagai indikator pembangunan ekonomi makro.
Dimulai sejak 2017, kerja sama Indonesia-Inggris dalam kerangka PRK kini memasuki fase transisi ke tahap kedua yang akan dimulai 2022 hingga 2025, dengan target lebih strategis dan berdampak jangka panjang.
“Kolaborasi Pemerintah Indonesia dan Inggris telah memberikan landasan yang kokoh bagi Indonesia untuk bergerak menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan melalui berbagai studi kebijakan, seperti food loss and waste, carbon tax, carbon pricing, efisiensi energi, serta keterkaitan antara keanekaragaman hayati dan perubahan iklim,” tutur Menteri Suharso di London, melalui keterangan tertulis, Senin (1/11).
Baca juga: Kerjasama Blue Ekonomi Indonesia-Swedia Sumber Pertumbuhuan Ekonomi Baru
Pada 2019, Kementerian PPN/Bappenas bersama konsorsium penelitian dan mitra pembangunan mengembangkan laporan “Perubahan Paradigma Menuju Perekonomian Hijau di Indonesia”.
Temuan kunci meliputi pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan dapat menghasilkan tingkat pertumbuhan PDB rata-rata enam persen per tahun, hingga strategi penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 43 persen pada 2030.
Kementerian PPN/Bappenas mengintegrasikan temuan tersebut ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, salah satunya dengan menjadikan pengurangan emisi gas rumah kaca sebagai indikator pembangunan ekonomi makro.