Mobilitas Mulai Meningkat, Ini Sektor yang Mengalami Inflasi
Mahmuda attar hussein
Rabu, 03 November 2021 - 14:15 WIB
ilustrasi inflasi. Foto: Pixabay
Seiring peningkatan mobilitas, pemerintah memproyeksikan potensi inflasi yang menguat secara bertahap. Diperkirakan mencapai 1,8 persen secara tahunan (yoy), dilihat dari perkembangan Oktober dan pulihnya mobilitas masyarakat akibat dilonggarkannya PPKM.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Febrio Kacaribu mengatakan, pemerintah mengantisipasi terjadinya ledakan mobilitas yang dapat berisiko penularan wabah Covid-19. Salah satunya dengan menghapus cuti bersama akhir tahun dan memperketat syarat perjalanan antardaerah.
Lebih lanjut, perayaan Natal dan Tahun Baru, serta liburan akhir tahun menjadi momen peningkatan konsumsi. Sehingga dapat mendorong kenaikan inflasi.
"Tercatat, laju inflasi Oktober sebesar 1,66 persen (yoy), meningkat dari angka September 1,60 persen (yoy). Kenaikan ini dipengaruhi naiknya inflasi administered price seiring mobilitas masyarakat yang meningkat di tengah masih tumbuh terbatasnya inflasi inti dan melambatnya inflasi volatile food,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (3/11).
Baca juga: Kompetensi Digital Dapat Tingkatkan Daya Saing Pekerja di Indonesia
Secara bulan ke bulan (mtm), inflasi terjadi sebesar 0,12 persen (mtm) sehingga kumulatif mencapai 0,93 persen (ytd). Secara spasial, 68 kota mengalami inflasi dan 22 kota mengalami deflasi.
Adapun kelompok yang mengalami tren kenaikan inflasi, seperti kebutuhan sandang, jasa perumahan, perlengkapan rumah tangga, dan transportasi. Di sisi lain, juga terdapat perlambatan terbatas pada kesehatan, pendidikan, dan penyediaan makanan dan minuman atau restoran.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Febrio Kacaribu mengatakan, pemerintah mengantisipasi terjadinya ledakan mobilitas yang dapat berisiko penularan wabah Covid-19. Salah satunya dengan menghapus cuti bersama akhir tahun dan memperketat syarat perjalanan antardaerah.
Lebih lanjut, perayaan Natal dan Tahun Baru, serta liburan akhir tahun menjadi momen peningkatan konsumsi. Sehingga dapat mendorong kenaikan inflasi.
"Tercatat, laju inflasi Oktober sebesar 1,66 persen (yoy), meningkat dari angka September 1,60 persen (yoy). Kenaikan ini dipengaruhi naiknya inflasi administered price seiring mobilitas masyarakat yang meningkat di tengah masih tumbuh terbatasnya inflasi inti dan melambatnya inflasi volatile food,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (3/11).
Baca juga: Kompetensi Digital Dapat Tingkatkan Daya Saing Pekerja di Indonesia
Secara bulan ke bulan (mtm), inflasi terjadi sebesar 0,12 persen (mtm) sehingga kumulatif mencapai 0,93 persen (ytd). Secara spasial, 68 kota mengalami inflasi dan 22 kota mengalami deflasi.
Adapun kelompok yang mengalami tren kenaikan inflasi, seperti kebutuhan sandang, jasa perumahan, perlengkapan rumah tangga, dan transportasi. Di sisi lain, juga terdapat perlambatan terbatas pada kesehatan, pendidikan, dan penyediaan makanan dan minuman atau restoran.