Langit7, Jakarta - Seiring peningkatan mobilitas, pemerintah memproyeksikan potensi inflasi yang menguat secara bertahap. Diperkirakan mencapai 1,8 persen secara tahunan (yoy), dilihat dari perkembangan Oktober dan pulihnya mobilitas masyarakat akibat dilonggarkannya PPKM.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Febrio Kacaribu mengatakan, pemerintah mengantisipasi terjadinya ledakan mobilitas yang dapat berisiko penularan wabah Covid-19. Salah satunya dengan menghapus cuti bersama akhir tahun dan memperketat syarat perjalanan antardaerah.
Lebih lanjut, perayaan Natal dan Tahun Baru, serta liburan akhir tahun menjadi momen peningkatan konsumsi. Sehingga dapat mendorong kenaikan inflasi.
"Tercatat, laju inflasi Oktober sebesar 1,66 persen (yoy), meningkat dari angka September 1,60 persen (yoy). Kenaikan ini dipengaruhi naiknya inflasi
administered price seiring mobilitas masyarakat yang meningkat di tengah masih tumbuh terbatasnya inflasi inti dan melambatnya inflasi
volatile food,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (3/11).
Baca juga: Kompetensi Digital Dapat Tingkatkan Daya Saing Pekerja di IndonesiaSecara bulan ke bulan (mtm), inflasi terjadi sebesar 0,12 persen (mtm) sehingga kumulatif mencapai 0,93 persen (ytd). Secara spasial, 68 kota mengalami inflasi dan 22 kota mengalami deflasi.
Adapun kelompok yang mengalami tren kenaikan inflasi, seperti kebutuhan sandang, jasa perumahan, perlengkapan rumah tangga, dan transportasi. Di sisi lain, juga terdapat perlambatan terbatas pada kesehatan, pendidikan, dan penyediaan makanan dan minuman atau restoran.
Inflasi
volatile food mengalami penurunan, mencapai 3,16 persen (yoy), turun dari angka September 3,51 persen (yoy) yang dipengaruhi penurunan harga pangan, seperti telur ayam dan sayuran.
Baca juga: Luncurkan Koperasi, HIPSI Jateng Siap Cetak 1.000 SantripreunerTurunnya harga telur disebabkan oleh pasokan telur secara nasional masih surplus karena penyerapan yang belum maksimal akibat berbagai pembatasan kegiatan, demikian harga sayuran yang turut menurun karena melimpahnya stok akibat faktor panen.
Di sisi lain, peningkatan harga terjadi juga pada komoditas cabai merah, daging ayam ras, serta minyak goreng. Harga minyak goreng meningkat tajam akibat harga
Crude Palm Oil (CPO) global yang masih dalam tren meningkat.
“Pemerintah berkomitmen menjaga akses pangan masyarakat miskin dan rentan dengan melakukan penyaluran bantuan sosial pangan, serta melakukan stabilisasi harga pangan pokok, terutama beras. Pemerintah Pusat dan Daerah juga terus memantau potensi kenaikan harga pangan di akhir tahun mengingat faktor masuknya musim penghujan dan momen perayaan Natal dan liburan akhir tahun,” katanya.
(zul)