Langit7, Semarang - Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Jateng meluncurkan Koperasi Sumber Lawang Berkah, di Hotel Normans Semarang, akhir pekan lalu. Selain meluncurkan koperasi, HIPSI juga bertekad untuk mencetak santri enterpreneur melalui program 1.000 Inkubasi bisnis santri.
“Sektor awalnya berupa pelatihan di pesantren dan kampus. Untuk menyiapkan pelaku usaha paling tidak 2 semester untuk kita menggodok 5-10 orang dalam satu tim,” ujar Ketua DPW HIPSI Jateng Fatah Rosihan Afandi dilansir dari NU Online Jateng, Selasa (2/11).
Baca juga: Maruf Amin Sebut Pesantren Sebagai Agen Pemberdayaan Ekonomi UmmatKoperasi Sumber Lawang Berkah sendiri, akan dijadikan naungan untuk menampung profit hasil bisnis dari program Hipsi Jateng. Turut hadir dalam acara tersebut dari DPD HIPSI Demak, Pati, Grobogan, Kendal dan Temanggung.
Janu Hari Setiawan, dari kelompok Nusantara Farm mengajukan rencana rehabilitasi pohon alpukat. Budidaya tanaman buah berbasis teknologi ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Pihaknya menerapkan sistem barcode , sehingga kapan pohon itu berbuah bisa diketahui pada bulan apa.
“Nanti Januari permintaan pasar dari Jakarta, super market termasuk dari Kementerian Koperasi kemarin sudah menggandeng kami. Kebutuhan sekitar 10 ton/bulan,” kata Janu, yang memenangkan juara 1 lomba bussines plan, yang digelar DPW HIPSI Jateng.
Menurut penggerak inkubator bisnis Indonesia Nur Hadi, pendidikan pesantren berhasil mencetak kemandirian santri. Hal itu terbukti dengan tidak bergabung pada sektor dunia kerja. Santri itu mandiri, tidak tergantung pada perusahaan atau pegawai negeri.
“Sejak awal santri disiapkan untuk mandiri, dan mandiri adalah inti dari
enterpreneruship,” ucapnya.
Baca juga: Kemenkop UKM Dorong Masjid dan Ponpes Lakukan Inkubasi Bisnis“Pelaku usaha baru, khususnya santri agar tetap memperjuangkan bisnis yang telah dirintis dari nol. Semua kesuksesan dimulai dari nol, tidak ada nol, tidak ada kesuksesan. Orang hebat memulai semuanya dari nol,” kata dia.
Diakui Nur Hadi, dinamika santri mengalami kemajuan yang cukup pesat dan santri bisa lepas dari paradigma klasik, yakni kaum marjinal. Pada mulanya santri dikonotasikan sebagai kaum marjinal, memiliki pola pikir tradisional.
“Tapi tidak dengan santri sekarang. Tidak sedikit santri kita membuktikan dirinya sederajat dengan yang lain. Ilmuwan kampus banyak didominasi santri, saya bangga untuk itu,” ujar Nur Hadi.
Baca juga: Kembali Sambangi Ketum Persis, Sandiaga Bahas SantripreneurWakil Rektor IAIN Kudus ini menilai perkembangan santri yang nampak saat ini sebagai kesempatan awal, atau pemantik untuk mengembangakn seorang santri menjadi pebisnis atau wirausahawan. Apalagi, saat ini santri juga sudah mulai menguasai teknologi digital.
“Teknologi sekarang juga sudah dikuasai santri. Banyak santri yang hapal Alquran atau ahli kitab salaf, juga menguasai teknologi,” ucapnya.
(zul)