Langit7, Jakarta - Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) mendorong masjid dan pondok pesantren (ponpes) agar bisa melakukan inkubasi bisnis.
Hal itu dilakukan guna melahirkan
santripreneur berbasis teknologi dan inovasi di Indonesia. Sebab, Indonesia sendiri memiliki potensi ekonomi ummat yang cukup besar dan berpengaruh.
Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM, Riza Damanik mengatakan, selain sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia juga merupakan pusat ekonomi syariah terbesar keempat di dunia menurut
Global Islamic Economic Indikator."Indonesia juga masuk ke dalam 10 besar dalam kategori makanan halal, wisata ramah muslim, fesyen, obat-obatan, dan komestik halal," kata Riza, dalam keterangan tertulis, Sabtu (02/9).
Baca juga: Shalat Jumat, Yuk Singgah untuk Berjamaah di 5 Masjid Kawasan Jakarta IniRiza menyebutkan, Indramayu memiliki potensi besar, khususnya di sektor pangan. Pihaknya mengaku akan memperkuat sektor pangan karena merupakan kontributor tertinggi kedua dalam PDRB Indramayu, termasuk nasional.
Adapun komoditas beras dan buah tropis (mangga), serta sektor perikanan di Indramayu cukup menjanjikan untuk dikembangkan. Apalagi, lanjut dia, perikanan di Indramayu menjadi yang terbesar di Jawa Barat, baik subsektor budi daya maupun perikanan tangkap, atau pengolahan ikan dan garam.
"Walaupun dalam pengembangan sektor pangan masih memiliki banyak tantangan yang harus dibenahi. Rata-rata para pelaku di sektor ini masih skala kecil dan perorangan," ujarnya.
Menurutnya, dengan skala usaha kecil tersebut, akan mempengaruhi tingkat efektivitas dan efisiensi dalam perkembangan usaha. Terlebih, akses pasar juga menjadi tantangan lain yang masih harus dibenahi.
"Tantangan lain adalah persoalan akses pembiayaan. Ke depan, akan ada bimbingan dan pelatihan yang akan mendekatkan UMKM pada akses pembiayaan dalam pengembangan usahanya," katanya.
Baca juga: Keindahan Masjid Bhong seperti Istana di Negeri DongengSementara itu, masih rendahnya tingkat produktivitas, teknologi, dan inovasi yang membelit pelaku UMKM juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk itu, pihaknya akan berupaya untuk mengembangkan Korporatisasi Petani dan nelayan.
Di antaranya dengan memperkuat usaha di sektor pangan yang berskala kecil agar bergabung dalam koperasi. Dengan berkoperasi, kata dia, akses terhadap pasar dan pembiayaan, serta inovasi produk, akan semakin baik.
"Seperti program korporatisasi petani di koperasi pesantren Al Ittifaq (Ciwidey, Bandung). Di sana, koperasi melakukan agregasi dan bermitra dengan puluhan ponpes lainnya. Sehingga, bisa masuk skala ekonomi dan menguasai lini usaha dari hulu hingga hilir," tambahnya.
(zul)