Kisah Pahlawan Nasional
KH Wahid Hasyim, Ulama Cerdas dan Negarawan yang Syahid di Usia Muda
Muhajirin
Selasa, 09 November 2021 - 18:09 WIB
Lukisan sketsa KH Abdul Wahid Hasyim (foto: twitter/@Fihrilkamal)
Nahdlatul Ulama memiliki banyak pahlawan nasional, salah satunya adalah KH Abdul Wahid Hasyim. Beliau dianugerahi Pahlawan Nasional oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Presiden RI No.206/1964, tertanggal 24 Agustus 1964. KH Wahid Hasyim dikenal sebagai seorang negarawan sekaligus ulama muda yang cerdas.
Ayah dari Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid itu lahir di Jombang, Jawa Timur pada 1 Juni 1914. Dia merupakan putra kelima dari pasangan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur dengan Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas.
Mengutip laman pahlawancenter.com, awalnya beliau diberi nama Muhammad Hasyim, mewarisi nama kakeknya. Namun nama itu dianggap tidak serasi. Akhirnya diganti menjadi Abdul Wahid. Tumbuh di lingkungan pesantren membuat Gus Wahid sangat dekat dengan pelajaran agama.
Sejak umur 5 tahun, ia sudah belajar Al-Qur’an kepada sang ayah. Pagi hari bersekolah di Salafiyah di Tebuireng, usai Zuhur dan Magrib mengaji. Selebihnya bermain selayaknya anak-anak pada usia itu.
Saat memasuki usia 7 tahun, beliau sudah belajar kitab-kitab Fathul Qarib, Minhajul Abidin, Mutammimah Jurumiyah, dan lain-lain kepada sang ayah. Padahal kitab-kitab itu tidak biasanya dapat dibaca oleh anak berumur 7 tahun.
Selain di Tebuireng, beliau juga belajar di beberapa pesantren seperti di Siwalan Panji, Sidoharjo, Mojosari, dan Lirboyo. Beliau belajar di pesantren-pesantren itu tak lama, lalu pulang ke Tebuireng.
Saat sudah paham huruf latin pada usia 15 tahun, beliau lalu bersungguh-sungguh mempelajari berbagai pengetahuan. Ia berlangganan majalah Panjebar Semangat (Aliran Dr. Sutomo), Daulat Rakyat (PNI-Hatta), dan Panji Pustaka, terbitan Balai Pustaka.
Ayah dari Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid itu lahir di Jombang, Jawa Timur pada 1 Juni 1914. Dia merupakan putra kelima dari pasangan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur dengan Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas.
Mengutip laman pahlawancenter.com, awalnya beliau diberi nama Muhammad Hasyim, mewarisi nama kakeknya. Namun nama itu dianggap tidak serasi. Akhirnya diganti menjadi Abdul Wahid. Tumbuh di lingkungan pesantren membuat Gus Wahid sangat dekat dengan pelajaran agama.
Sejak umur 5 tahun, ia sudah belajar Al-Qur’an kepada sang ayah. Pagi hari bersekolah di Salafiyah di Tebuireng, usai Zuhur dan Magrib mengaji. Selebihnya bermain selayaknya anak-anak pada usia itu.
Saat memasuki usia 7 tahun, beliau sudah belajar kitab-kitab Fathul Qarib, Minhajul Abidin, Mutammimah Jurumiyah, dan lain-lain kepada sang ayah. Padahal kitab-kitab itu tidak biasanya dapat dibaca oleh anak berumur 7 tahun.
Selain di Tebuireng, beliau juga belajar di beberapa pesantren seperti di Siwalan Panji, Sidoharjo, Mojosari, dan Lirboyo. Beliau belajar di pesantren-pesantren itu tak lama, lalu pulang ke Tebuireng.
Saat sudah paham huruf latin pada usia 15 tahun, beliau lalu bersungguh-sungguh mempelajari berbagai pengetahuan. Ia berlangganan majalah Panjebar Semangat (Aliran Dr. Sutomo), Daulat Rakyat (PNI-Hatta), dan Panji Pustaka, terbitan Balai Pustaka.