LANGIT7.ID - Nahdlatul Ulama memiliki banyak pahlawan nasional, salah satunya adalah KH Abdul Wahid Hasyim. Beliau dianugerahi Pahlawan Nasional oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Presiden RI No.206/1964, tertanggal 24 Agustus 1964. KH Wahid Hasyim dikenal sebagai seorang negarawan sekaligus ulama muda yang cerdas.
Ayah dari Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid itu lahir di Jombang, Jawa Timur pada 1 Juni 1914. Dia merupakan putra kelima dari pasangan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur dengan Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas.
Mengutip laman pahlawancenter.com, awalnya beliau diberi nama Muhammad Hasyim, mewarisi nama kakeknya. Namun nama itu dianggap tidak serasi. Akhirnya diganti menjadi Abdul Wahid. Tumbuh di lingkungan pesantren membuat Gus Wahid sangat dekat dengan pelajaran agama.
Sejak umur 5 tahun, ia sudah belajar Al-Qur’an kepada sang ayah. Pagi hari bersekolah di Salafiyah di Tebuireng, usai Zuhur dan Magrib mengaji. Selebihnya bermain selayaknya anak-anak pada usia itu.
Saat memasuki usia 7 tahun, beliau sudah belajar kitab-kitab
Fathul Qarib, Minhajul Abidin, Mutammimah Jurumiyah, dan lain-lain kepada sang ayah. Padahal kitab-kitab itu tidak biasanya dapat dibaca oleh anak berumur 7 tahun.
Selain di Tebuireng, beliau juga belajar di beberapa pesantren seperti di Siwalan Panji, Sidoharjo, Mojosari, dan Lirboyo. Beliau belajar di pesantren-pesantren itu tak lama, lalu pulang ke Tebuireng.
Saat sudah paham huruf latin pada usia 15 tahun, beliau lalu bersungguh-sungguh mempelajari berbagai pengetahuan. Ia berlangganan majalah Panjebar Semangat (Aliran Dr. Sutomo), Daulat Rakyat (PNI-Hatta), dan Panji Pustaka, terbitan Balai Pustaka.
Selain itu, beliau juga berlangganan
Ummul Qur’an, Saultul Hijaz, Al-Lathoiful Musyawarah, Kullushai-in wad-Dunnya, dan
Al-Itsnain. Sejak itu pula ia belajar bahasa Belanda dengan berlangganan kursus tertulis “Sumber Pengetahuan” di Bandung. Setelah mengambil bahasa Belanda dan bahasa Arab, beliau juga belajar bahasa Inggris.
Berbekal penguasaan bahasa itu, beliau gemar membaca berbagai koran maupun buku. Maka itu, meski masih muda beliau sudah mengenakan kacamata lantaran terlalu banyak membaca.
Baca Juga: Kasman Singodimedjo dan Pergulatan Perumusan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Dalam buku Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan karya Johan Prasetya menulis, pada 1932 atau saat berusia 18 tahun, Wahid Hasyim berangkat ke Arab untuk memperdalam ilmu agama. Ia belajar agama hingga dua tahun di negara itu lalu kembali ke Tanah Air.
Setelah kembali dari Arab, KH Wahid Hasyim mengabdikan diri kepada umat. Selain menjadi guru di madrasah yang beliau rintis, Madrasah Nizamiyah, ia juga aktif di Nahdlatul Ulama (NU). Pada usia 25 tahun, beliau terpilih menjadi Ketua Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), sebuah perkumpulan organisasi Islam di Indonesia.
Pada usia itu pula, beliau menyempurnakan separuh agama dengan mempersunting seorang gadis bernama Sholihah, putri KH Bisri Syansuri, yang kala itu berusia 15 tahun. Beliau dikaruniai empat anak, salah satunya Abdurrahman ad-Dakhil atau Abdurrahman Wahid, Presiden ke-4 RI.
KH Wahid Hasyim dikenal sebagai tokoh yang piawai dalam berorganisasi dan berpolitik. Ia juga memiliki komitmen kuat memajukan bangsa Indonesia. Atas dasar itu, dia dipercaya oleh NU sebagai wakil di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), organisasi yang didirikannya bersama Moh Natsir pada 1945. Pada 1947, Wahid hasyim dipercaya memimpin Pondok Pesantren Tebuireng.
Syahid di Usia MudaKH Wahid Hasyim meninggal dunia pada 19 April 1953 akibat kecelakaan. Sehari sebelumnya, dia bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Dia bersama beberapa orang, termasuk sopir dan Abdurrahman Wahid, naik mobil Chevrolet miliknya.
Saat itu, jalan di sekitar Cimahi dan Bandung licin akibat hujan. Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi KH Wahid Hasyim selip, sang sopir tidak bisa menguasai kendaraan. Mobilnya membentur badan truk.
KH Wahid Hasyim terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti itu. sementara sang sopir dan Abdurrahman Wahid tidak cedera sedikit pun. Ia dilarikan ke RS Borromeus di Bandung, tidak sadarkan diri. Keesokan harinya, beliau menghembuskan nafas terakhir dalam usia yang relatif muda yakni 39 tahun.
Wafatnya KH Wahid Hasyim karena kecelakaan tergolong mati syahid. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam Sabda Rasulullah yakni:
"Syuhada ada dalam lima kondisi, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha'un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena benturan keras (seperti tabrakan, tertimpa reruntuhan), dan orang yang gugur di jalan Allah." (HR Bukhari Muslim).
(jqf)