Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 30 Mei 2026
home global news detail berita

Perjuangan Cut Nyak Dhien di Jalan Allah, Sampai Ditakuti Belanda

mahmuda attar hussein Kamis, 10 November 2022 - 13:30 WIB
Perjuangan Cut Nyak Dhien di Jalan Allah, Sampai Ditakuti Belanda
Dokumentasi pahlawan nasional Cut Nyak Dhien. (Foto: Istimewa).
LANGIT.ID, Jakarta - Perjuangan Cut Nyak Dhien di Jalan Allah patut dijadikan pembelajaran. Terlebih, kisah heroiknya melawan penjajah di Tanah Rencong sampai ditakuti pihak Belanda.

Wanita berjuluk Ratu Perang Aceh ini ini memiliki andil besar dalam memperjuangkan Aceh dari serbuan Belanda. Bahkan, perjuangannya itu sampai membuat Belanda ketat-ketir hingga harus mengasingkannya ke Sumedang.

Mengutip buku "Cut Nyak Dhien: Ibu Perbu dari Tanah Rencong" karya Anita Retno Winarsih, berikut fakta-fakta seputar Pahlawan Nasional, Cut Nyak Dhien.

Baca Juga: Mengenang Abdoel Moeis, Pahlawan Nasional Pertama di Indonesia

1. Berasal dari Keluarga Bangsawan

Cut Nyak Dhien adalah salah satu pejuang wanita dari Tanah Rencong atau Aceh. Diketahui Lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh, tahun 1848.

Dia juga merupakan keturunan Bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar. Ayahnya, Teuku Nanta Setia, ialah keturunan Machmoed Sati, perantau dari Sumatera Barat, sedangkan ibunya merupakan seorang putri uleebalang Lampagar.

2. Taat Beragama

Di balik sosok keberaniannya melawan penjajah, Cut Nyak Dhien adalah wanita yang taat beragama. Sejak kecil dia sudah dididik untuk dekat dengan ajaran agama oleh orang tua dan gurunya.

Tidak hanya dalam ibadah, perempuan pemberani ini juga belajar menjadi seorang perempuan yang baik di rumah. Dia diajarkan keahlian rumah tangga, seperti memasak, melayani suami, dan perihal kehidupan sehari-hari.

Hal itu jugalah yang akhirnya membuat dia dijuluki Ibu Perbu (Ibu Suci). Sebab, saat diasingkan ke Sumedang dia menghabiskan waktu hingga akhir hayatnya untuk berdakwah.

3. Perang atas Nama Allah

Belanda mendeklarasikan perang dengan Aceh pada 26 Maret 1873. Perang dibuka dengan tembakan meriam yang dilepaskan Belanda ke daratan Aceh.

Belanda yang dipimpin Johan Harmen Rudolf Köhler berhasil menguasasi Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya. Peristiwa itu terjadi tepat pada 8 April 1873.

Mengutip laman Biografiku, Cut Nyak Dhien yang marah sontak berteriak: Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat ibadah kita dirusak! Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?

4. Kemenangan dan Kekalahan

Perang pertama yang meletus saat itu berhasil dimenangkan pihak Aceh. Kohler tewas dalam pertempuran itu.

Tepatnya pada 30 September 1893, suami Dhien, Teuku Umar bersiasat untuk menyerahkan diri kepada pihak Belanda. Tujuannya tidak lain untuk memahami strategi dan taktik perang pihak musuh.

Mengetahui penyerahan diri Teuku Umar hanyalah tipuan, Belanda lantas melakukan penyerangan untuk menangkap Dhien dan Umar. Dalam peristiwa itu Teuku Umar harus gugur tertembak peluru pada 11 Februari 1899.

5. Dhien Diasingkan

Perjuangan tidak berhenti di situ, Cut Nyak Dhien masih terus melanjutkan perlawanan kepada Belanda. Namun pasukan kecilnya harus menemui kehancuran pada 1901.

Hingga akhirnya Dhien harus tertangkap oleh pasukan Belanda dan dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Belanda takut bila Dhien masih berada di Aceh akan kembali mengobarkan semangat rakyatnya.

6. Dakwah dan Wafat di Sumedang

Perjuangan Dhien di jalan Allah tidak berhenti di situ. Namun bukan dalam perang, melainkan berdakwah di Sumedang sampai akhir hayatnya.

Saat masa penahanannya, dia bertemu dengan ulama bernama Ilyas. Di sinilah Dhien dijuluki sebagai "Ibu Perbu" karena memiliki pemahaman lebih dalam agama Islam.

Cut Nyak Dhien meninggal di usia tuanya pada 6 November 1908. Makamnya di Sumedang ditemukan pada tahun 1959 atas permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan.

“Ibu Perbu” diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

(bal)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 30 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)