LANGIT7.ID - Siapa saja yang berkunjung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (FISIP UMJ), pasti akan menemukan sebuah auditorium dengan nama MR kasman Singodimedjo. Penamaan tersebut merupakan bentuk apresiasi UMJ untuk menghormati pengorbanan dan perjuangan tokoh Muhammadiyah dalam sejarah persatuan Indonesia.
Memang, sosok Kasman Singodimedjo tidak sepopuler nama pahlawan-pahlawan nasional lain. Maka pemberian nama Kasman Singodimedjo merupakan upaya UMJ mengangkat dan mensosialisasikan sosok beliau ke publik.
Kasman Singodimedjo adalah tokoh yang berperan dalam perumusan dasar negara. Beliau membujuk Ki Bagus Hadikusumo untuk mengubah tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Kala itu, masyarakat di Indonesia Timur melayangkan protes keras dan mengancam memisahkan diri dari Indonesia jika tujuh kata itu tidak dihilangkan.
Soekarno lalu mengutus Kasman untuk membujuk Ki Bagus sebagai tokoh kunci Piagam Jakarta. Demi persatuan, frasa “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Baca Juga: Ki Bagus Hadikusumo: Ulama Muhammadiyah Perumus Pembukaan UUD 1945
Berjuang dalam Mempersiapkan dan Mempertahankan KemerdekaanPada masa pendudukan Jepang, Kasman terpilih menjadi Komandan (Daidancho) Tentara Pembela Tanah Air (PETA) Daidan I Jakarta. Dia bertugas memimpin 500 pasukan.
Dalam Inteligensia Muslim dan Kuasa (2006), Yudi Latif menulis, menjelang kemerdekaan RI, Soekarno melibatkan Kasman mewakili umat Islam dalam rapat anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Pada 17 Agustus 1945, Kasman kembali memegang kendali sebagai militer untuk mengamankan jalannya upacara pembacaan teks proklamasi kemerdekaan RI. Namun justru, cobaan paling berat terjadi sehari pasca proklamasi.
Saat itu, kaum kristiani dari Indonesia Timur mengancam akan melepaskan diri dari Indonesia jika tujuh kata dalam Piagam Jakarta tak dihapus Soekarno. Bung Karno lalu mendorong Kasman berupaya membujuk Ki Bagus Hadikusumo sebagai tokoh kunci Piagam Jakarta agar umat Islam mau mengalah untuk kesekian kalinya.
“Kalau bangsa Indonesia, terutama pemimpin-pemimpin cekcok, lantas bagaimana?” demikian ucap Kasman dengan bahasa Jawa halus sebagaimana dicatat oleh Artawijaya dalam Belajar dari Partai Masjumi (2014).
“Kiai, tidaklah bijaksana jikalau kita sekarang sebagai umat Islam yang mayoritas ini sementara mengalah, yakni menghapus tujuh kata termasuk demi kemenangan cita-cita kita bersama, yakni tercapainya Indonesia Merdeka sebagai negara yang berdaulat, adil, makmur, tenang, tenteram, diridhai Allah,” tutur Kasman.
Penyesalan KasmanSebelum wafat pada 1982, Kasman memiliki penyesalan yang sangat mendalam. Ia memiliki janji kepada Ketua PP Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo, saat merayunya mau menghapus tujuh kata Piagam Jakarta.
Sebenarnya, Soekarno pernah menjanjikan akan mengakomodir kembali tujuh kata itu dalam sidang MPR pada Februari 1946. Hingga Ki Bagus wafat pada 4 November 1954, janji itu belum terwujud. Namun, ia terus menagih janji itu. Bahkan ia menagih secara keras pada Sidang Konstituante 2 Desember 1957, termasuk saat Soekarno wafat pada 1970.
“Sayalah yang bertanggung jawab dalam masalah ini, dan semoga Allah mengampuni dosa saya,” ucap Kasman sambil menangis di depan anggota Muhammadiyah Lukman Harun, seperti dicatat Artawijaya dalam Belajar dari Partai Masjumi (2014).
(jqf)