Profil Pesantren
Pesantren Amanatul Ummah, Bermula dari Hutan Angker Jadi Madrasah Internasional
Muhajirin
Kamis, 11 November 2021 - 15:59 WIB
Pondok Pesantren Amanatul Ummah (foto: sistren-au.sch.id)
Perjalanan Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Pacet, Mojokerto menjadi salah satu sekolah favorit di Jawa Timur tergolong unik. Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim sebagai pendiri harus melalui jalan penuh lika-liku.
Kiai miliarder itu bahkan dianggap memiliki tuyul lantaran mendirikan pesantren di hutan angker. Jauh dari perkampungan, jalan sempit dan menakutkan karena banyak perampok kian mempertebal anggapan itu.
“Saat itu jalannya sempit, makadam (jalan kasar). Hutannya angker. Banyak orang yang takut,” kata KH Asep dalam acara Gergeran Bersama Kiai melalui kanal YouTube Bangsa Online, dikutip Kamis (11/11/2021). Pesantren itu diresmikan oleh KH Nur Iskandar, SQ Jakarta. Kiai Nur Iskandar menganggap aneh lantaran KH Asep mendirikan pesantren di tengah hutan.
“Beliau bilang Kiai Asep ini aneh. Masak mendirikan pondok pesantren di tengah hutan. Apa nanti santrinya monyet-monyet, yang saya temui di tengah jalan tadi,” kata KH Asep menirukan respon Kiai Nur Iskandar saat meletakkan batu pertama.
Namun, kini pesantren yang sempat mendapat anggapan miring itu tumbuh pesat, besar, dan populer. Bahkan area yang semula hutan angker, kini dipenuhi rumah penduduk. Banyak orang yang mendirikan rumah. Jalan pesantren juga besar dan beraspal.
Hal keren lainnya, pesantren Amanatul Ummah berkembang dalam waktu relatif singkat. Sekitar 10 tahun, pesantren sudah memiliki puluhan ribu santri. Bahkan, pada Jumat, 15 Oktober 2021 lalu, Komisi E DPRD Jawa Timur merekomendasikan agar Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Pacet, Mojokerto menjadi percontohan pendidikan berbasis internasional di jatim. Pesantren itu tidak hanya berorientasi pada kemampuan empirik santri semata, tapi juga penguatan mental dan ideologi.
“Kita ingin Ponpes Amanatul Ummah Pacet Mojokerto ini bisa menjadi inspirasi bagi para orang tua yang ingin memondokkan sekaligus menyekolahkan anaknya dengan jaminan mereka nantinya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi favorit di Indonesia maupun luar negeri,” kata Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim, Hikmah Bafaqih, di sela kunjungan ke Ponpes Amanatul Ummah kala itu.
Kiai miliarder itu bahkan dianggap memiliki tuyul lantaran mendirikan pesantren di hutan angker. Jauh dari perkampungan, jalan sempit dan menakutkan karena banyak perampok kian mempertebal anggapan itu.
“Saat itu jalannya sempit, makadam (jalan kasar). Hutannya angker. Banyak orang yang takut,” kata KH Asep dalam acara Gergeran Bersama Kiai melalui kanal YouTube Bangsa Online, dikutip Kamis (11/11/2021). Pesantren itu diresmikan oleh KH Nur Iskandar, SQ Jakarta. Kiai Nur Iskandar menganggap aneh lantaran KH Asep mendirikan pesantren di tengah hutan.
“Beliau bilang Kiai Asep ini aneh. Masak mendirikan pondok pesantren di tengah hutan. Apa nanti santrinya monyet-monyet, yang saya temui di tengah jalan tadi,” kata KH Asep menirukan respon Kiai Nur Iskandar saat meletakkan batu pertama.
Namun, kini pesantren yang sempat mendapat anggapan miring itu tumbuh pesat, besar, dan populer. Bahkan area yang semula hutan angker, kini dipenuhi rumah penduduk. Banyak orang yang mendirikan rumah. Jalan pesantren juga besar dan beraspal.
Hal keren lainnya, pesantren Amanatul Ummah berkembang dalam waktu relatif singkat. Sekitar 10 tahun, pesantren sudah memiliki puluhan ribu santri. Bahkan, pada Jumat, 15 Oktober 2021 lalu, Komisi E DPRD Jawa Timur merekomendasikan agar Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Pacet, Mojokerto menjadi percontohan pendidikan berbasis internasional di jatim. Pesantren itu tidak hanya berorientasi pada kemampuan empirik santri semata, tapi juga penguatan mental dan ideologi.
“Kita ingin Ponpes Amanatul Ummah Pacet Mojokerto ini bisa menjadi inspirasi bagi para orang tua yang ingin memondokkan sekaligus menyekolahkan anaknya dengan jaminan mereka nantinya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi favorit di Indonesia maupun luar negeri,” kata Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim, Hikmah Bafaqih, di sela kunjungan ke Ponpes Amanatul Ummah kala itu.