Kisah Pahlawan Nasional
Brigjen KH Syam'un, Gerilyawan yang Berguru di Masjidil Haram Sejak Belia
Muhajirin
Kamis, 11 November 2021 - 18:33 WIB
Brigjen KH Syamun (foto: istimewa)
Tentara dan Ulama secara umum adalah profesi yang berbeda. Namun berbeda dengan Brigjen KH Syam'un, beliau adalah tentara sekaligus ulama. Brigjen mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 2018. Gelar tersebut sedikit menggambarkan kiprah pria kelahiran Banten itu dalam perjuangan merebut kemerdekaan dan dalam dunia pendidikan.
Dalam buku Fatwa dan Resolusi Jihad (2017), KH Agus Sunyoto menulis, KH Syam’un adalah perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA), Komandan Batalyon berpangkat daidancho atau mayor pada 1944.
Pada 1944, ia dilantik menjadi Komandan Batalyon PETA berpangkat mayor, memimpin 567-600 pasukan. Saat TKR dibentuk pada 5 Oktober 1945, pangkatnya naik jadi colonel, Komandan Divisi I TKR dengan memimpin 10.000 pasukan. Pada 1948, ia naik pangkat brigadir jenderal. Ia memimpin gerilya di wilayah Banten, sampai wafatnya pada 1949.
Dalam catatan laman Pemprov Banten, dijelaskan alasan KH Syam’un bergabung PETA yang notabene merupakan gerakan pemuda bentukan Jepang. Ia bergabung sebagai salah satu langkah KH Syam’un mempersiapkan perlawanan. Persiapan itu sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan perjuangan.
Selama menjadi daidanco, KH Syam’un kerap mengajak anak buahnya memberontak dan mengambil alih kekuasaan Jepang. Maksud tersebut ia utarakan kepada pemimpin daidanco, M KH Oyong Tanaya dan daidanco IV Uding Surya Atmadja untuk mengumpulkan kekuatan.
KH Syam’un juga pernah diangkat menjadi Bupati Serang periode 1945-1949. Di sela jabatannya, pada 1948, ia mengurus pesantren. Pada tahun yang sama, meletus Agresi Militer Belanda II yang mengharuskan KH Syam’un bergerilya dari Gunung Karang, Pandeglang hingga ke Kampung Kamasan Kec Cinangka, Serang. Di kampung ini, KH Syam’un meningga pada 1949 karena sakit saat memimpin gerilya dari hutan sekitar Kamasan.
Dari Pesantren ke Mekkah
Dalam buku Fatwa dan Resolusi Jihad (2017), KH Agus Sunyoto menulis, KH Syam’un adalah perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA), Komandan Batalyon berpangkat daidancho atau mayor pada 1944.
Pada 1944, ia dilantik menjadi Komandan Batalyon PETA berpangkat mayor, memimpin 567-600 pasukan. Saat TKR dibentuk pada 5 Oktober 1945, pangkatnya naik jadi colonel, Komandan Divisi I TKR dengan memimpin 10.000 pasukan. Pada 1948, ia naik pangkat brigadir jenderal. Ia memimpin gerilya di wilayah Banten, sampai wafatnya pada 1949.
Dalam catatan laman Pemprov Banten, dijelaskan alasan KH Syam’un bergabung PETA yang notabene merupakan gerakan pemuda bentukan Jepang. Ia bergabung sebagai salah satu langkah KH Syam’un mempersiapkan perlawanan. Persiapan itu sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan perjuangan.
Selama menjadi daidanco, KH Syam’un kerap mengajak anak buahnya memberontak dan mengambil alih kekuasaan Jepang. Maksud tersebut ia utarakan kepada pemimpin daidanco, M KH Oyong Tanaya dan daidanco IV Uding Surya Atmadja untuk mengumpulkan kekuatan.
KH Syam’un juga pernah diangkat menjadi Bupati Serang periode 1945-1949. Di sela jabatannya, pada 1948, ia mengurus pesantren. Pada tahun yang sama, meletus Agresi Militer Belanda II yang mengharuskan KH Syam’un bergerilya dari Gunung Karang, Pandeglang hingga ke Kampung Kamasan Kec Cinangka, Serang. Di kampung ini, KH Syam’un meningga pada 1949 karena sakit saat memimpin gerilya dari hutan sekitar Kamasan.
Dari Pesantren ke Mekkah