Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home sosok muslim detail berita
Kisah Pahlawan Nasional

Brigjen KH Syam'un, Gerilyawan yang Berguru di Masjidil Haram Sejak Belia

Muhajirin Kamis, 11 November 2021 - 18:33 WIB
Brigjen KH Syam'un, Gerilyawan yang Berguru di Masjidil Haram Sejak Belia
Brigjen KH Syamun (foto: istimewa)
LANGIT7.ID - Tentara dan Ulama secara umum adalah profesi yang berbeda. Namun berbeda dengan Brigjen KH Syam'un, beliau adalah tentara sekaligus ulama. Brigjen mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 2018. Gelar tersebut sedikit menggambarkan kiprah pria kelahiran Banten itu dalam perjuangan merebut kemerdekaan dan dalam dunia pendidikan.

Dalam buku Fatwa dan Resolusi Jihad (2017), KH Agus Sunyoto menulis, KH Syam’un adalah perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA), Komandan Batalyon berpangkat daidancho atau mayor pada 1944.

Pada 1944, ia dilantik menjadi Komandan Batalyon PETA berpangkat mayor, memimpin 567-600 pasukan. Saat TKR dibentuk pada 5 Oktober 1945, pangkatnya naik jadi colonel, Komandan Divisi I TKR dengan memimpin 10.000 pasukan. Pada 1948, ia naik pangkat brigadir jenderal. Ia memimpin gerilya di wilayah Banten, sampai wafatnya pada 1949.

Dalam catatan laman Pemprov Banten, dijelaskan alasan KH Syam’un bergabung PETA yang notabene merupakan gerakan pemuda bentukan Jepang. Ia bergabung sebagai salah satu langkah KH Syam’un mempersiapkan perlawanan. Persiapan itu sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan perjuangan.

Selama menjadi daidanco, KH Syam’un kerap mengajak anak buahnya memberontak dan mengambil alih kekuasaan Jepang. Maksud tersebut ia utarakan kepada pemimpin daidanco, M KH Oyong Tanaya dan daidanco IV Uding Surya Atmadja untuk mengumpulkan kekuatan.

KH Syam’un juga pernah diangkat menjadi Bupati Serang periode 1945-1949. Di sela jabatannya, pada 1948, ia mengurus pesantren. Pada tahun yang sama, meletus Agresi Militer Belanda II yang mengharuskan KH Syam’un bergerilya dari Gunung Karang, Pandeglang hingga ke Kampung Kamasan Kec Cinangka, Serang. Di kampung ini, KH Syam’un meningga pada 1949 karena sakit saat memimpin gerilya dari hutan sekitar Kamasan.

Dari Pesantren ke Mekkah

KH Syam’un lahir di Kampung Beji, Cilegon, Banten, pada 15 April 1883. Sang ibu, Siti Hadjar, putri KH Wasid, tokoh perlawanan petani Banten terhadap pemerintah kolonial pada 1888. Sang ayah, H. Alwidjah, meninggal di Sumatra ketika KH Syam’un masih kecil.

KH Syam’un adalah seorang santri. Saat remaja, ia memperoleh pendidikan di Pesantren Delingseng milik KH Sa’I pada 1901. Dia lalu pindah ke Pesantren Kemasan, Asuhan KH Jasim di Serang pada 1904.

Pada 1905, saat berusia 11 tahun ia melanjutkan studi ke Mekkah Arab Saudi sampai 1910. Dia berguru di Masjid Al-Haram, tempat majelis ilmu para ulama terbaik di dunia. Ia mengambil pendidikan akademik di Al-Azhar University Cairo Mesir, sejak 1910-1915.

Setelah lulus di Al-Azhar, dia pulang ke Mekkah mengajar di Masjid Al-Haram. Ia mengajar dari berbagai suku dan bangsa. Murid terbanyak datang dari Jawa. Meski cuma setahun mengajar, di sini namanya mulai tersohor sebagai ‘Ulama Banten yang Besar’. Namun, pada 1915, ia memilih pulang ke Hindia Belanda.

Membuat Pesantren Modern

Rahayu Purnama dalam “Kiai Haji Sjam’un: Gagasan dan Perjuangannya” tesis di Universitas Indonesia, mengatakan, KH Syam’un meletakkan ilmu pada tingkat paling atas dalam pencapaian kehidupan manusia. Dia memiliki gagasan tentang hubungan ilmu pengetahuan dan masyarakat. KH Syam'un meyakini, pendidikan merupakan salah satu cara efektif mengatasi segala persoalan hidup.

Gagasan tersebut tampak saat KH Syam’un mendirikan pesantren di Citangkil, Cilegon, pada 1916. 10 tahun awal, materi pembelajaran masih berkutat seputar ilmu bahasa Arab, fiqih, hadits, tafsir, dan aqidah. Santrinya juga hanya puluhan orang.

Namun, lama kelamaan, pesantren itu berkembang. Tak hanya dari jumlah santri, tapi segi pembelajaran. Dia menggabungkan pola pendidikan tradisional pesantren dengan sekolah modern 1926.

Abdul Malik dkk, dalam Jejak Ulama Banten Dari syekh Yusuf Hingga Abuya Dimyati menulis, KH Syam’un berusaha mengembangkan rasionalitas Islam dengan seruan kembali kepada ajaran Islam yang pokok. Pada tahun ini pula ia bergabung dengan Nahdlatul Ulama.

Dia membuat terobosan dalam pesantren yang ia dirikan. Ia memasukkan mata pelajaran sekolah modern seperti matematika, ilmu alam, ilmu hayat, ilmu bumi, kosmografi, sejarah, bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti kepanduan, kesenian, dan olahraga. Dia juga menerapkan pembelajaran dalam ruang kelas secara berjenjang, sesuai tingkatan umur santri.

Perubahan sistem pendidikan Pesantren Citangkil ini seiring pula dengan perubahan nama pesantren menjadi Perguruan Islam Al-Khaeriyah. Selang beberapa waktu, cabang-cabang Al-Khaeriyah bermunculan di sejumlah wilayah Banten pada 1929. Pada 1939, KH Syam’un mendirikan sekolah dasar umum, Hollandsch Inlandsch School.

KH Syam’un juga mengabadikan gagasannya melalui buku. Dia menulis kitab tentang aqidah, fiqih, akhlak, dan sejarah. Publikasi karya-karya tersebut hanya terbatas pada kalangan pesantren, tapi mempunyai peran penting dalam pembentukan karakter santri-santrinya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)