home sosok muslim

Ian Dallas, Seniman dari Eropa Jadi Pemimpin Sufi di Afrika

Selasa, 16 November 2021 - 10:02 WIB
Ian Dallas menjadi mualaf dan berganti nama menjadi Syekh Abdul Qadir As-sufi (foto: istimewa)
Syekh Abdul Al-Qadir as-Sufi merupakan salah satu tokoh sufi yang terkenal di wilayah Benua Hitam, Afrika. Ia merupakan pemimpin Tarekat Darqawiyah salah satu cabang dari tarekat Syadziliyah-Qadiriyah, sebuah aliran tarekat yang lahir pada era modern. Dia juga pendiri Murabitun World Movement, sebuah gerakan keagamaan yang ingin menegakkan ajaran Islam secara kaffah.

Syekh Abdul Qadir seorang mualaf. Ia lahir pada 1930 di Ayr, Skotlandia, dengan nama Ian Dallas. Ia tumbuh dan dibesarkan di lingkungan keluarga Eropa pemeluk Kristen. Usai tamat di Royal of Dramatic Arts, London University, ia memulai karir di bidang seni sebagai penulis drama.

Dallas pernah dikontrak oleh jaringan televisi BBC sebagai penulis naskah sejumlah sandiwara dan drama. Tak jarang pula, ia turut bertindak sebagai pemain dalam pertunjukan drama dan sandiwara.

Dallas mulai tertarik pada Islam saat melakukan perjalanan ke Maroko. Ia banyak berinteraksi dengan komunitas muslim setempat, terutama kalangan pengikut sufisme yang memang marak di negara itu. pada 1963, di Kota Fes, Maroko, ia memutuskan memeluk Islam di bawah bimbingan Imam Masjid al-Qarawiyyin, Syekh Abdul Karim Daudi. Setelah itu, Ia Dallas mengubah nama menjadi Abdul Qadir.

Ketertarikan Abdul Qadir terhadap aliran sufi mempertemukan dia dengan guru sufi bernama Syekh Muhammad Ibn al-Habib. Setelah serangkaian kunjungan ke Zawiyah Syekh di Meknes, Maroko, ia memberi gelar as-Sufi di belakang nama Abdul Qadir.

Sejak pertama kali menjalankan syariat Islam, Abdul Qadir menyadari tak bisa terus menyendiri saat mengamalkan ajaran Islam. Ia lalu bergabung ke komunitas muslim kecil di Skotlandia dan Inggris. Di antara pengurus komunitas itu adalah seorang ulama terkenal bernama Abdul Aziz dan Abdul Haq Bewley beserta istri Aisha at-Tajumana Bewley.

Komunitas itu meninggalkan kemewahan masyarakat di pusat-pusat London. Mereka pindah ke sebuah rumah kosong di London. Dalam waktu singkat, komunitas itu bisa menyulap rumah kosong itu untuk berbagai keperluan ekonomi, seperti penjahit, toko roti, toko kesehatan, toko buku, hingga klinik.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
muslim mancanegara mualaf sufi
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya