Banyak Orang Pintar Tak Berakhlak, Gus Mus: Pendidikan Pesantren Jadi Solusi
Muhajirin
Rabu, 24 November 2021 - 14:29 WIB
ilustrasi santri (foto: gontor.ac.id)
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), menilai instansi pendidikan pesantren memiliki kelebihan khusus yang tak dimiliki lembaga lagi. Maka itu, ia mengajak para orang tua terus bersyukur jika anaknya mengenyam pendidikan di pesantren.
Di pesantren, kata beliau, para santri tidak hanya dididik untuk pintar saja. Lebih dari itu, para santri dididik untuk memiliki akhlakul karimah. Saat ini, banyak orang pintar namun tidak memiliki akhlak karimah, sehingga kepintaran hanya digunakan untuk kepentingan pribadi saja.
“Untuk apa orang pintar tapi tidak terdidik, artinya tidak berakhlak,” kata Gus Mus, dikutip kanal youtube HMWI Official, Rabu (24/11/2021).
Gus Mus menilai fenomena orang terdidik namun tak berakhlak banyak ditemui di tengah masyarakat. Ia mencontohkan pencuri hingga maling kelas kakap yakni koruptor. Para koruptor memiliki latar pendidikan tinggi serta memiliki jabatan terhormat di tengah masyarakat.
“Mereka yang pintar tapi tidak terdidik itu juga pintar berkelit. Kalau orang pintar mencuri, tiba-tiba miliaran, itu pun susah dipenjara, kadang diadili juga sangat susah. Beda dengan orang bodoh jadi maling, itu gampang, nangkapnya gampang, mengadilinya juga gampang,” tuturnya.
Maka dari itu, salah satu solusi terbaik dari permasalahan ini adalah mendidik anak-anak di pesantren. Pesantren terus berupaya mendidik para santri memiliki akhlak mulia dengan sistem pengawasan 24 jam. Segala aktivitas berada di bawah kontrol para ustadz, sehingga dapat meminimalisir tindakan tak terpuji.
Di sisi lain, pendidikan ala kiai pesantren juga berbeda dengan pendidikan pada umumnya. Mereka mendidik santri secara komprehensir, mulai dari aspek dzahir hingga batin.
Di pesantren, kata beliau, para santri tidak hanya dididik untuk pintar saja. Lebih dari itu, para santri dididik untuk memiliki akhlakul karimah. Saat ini, banyak orang pintar namun tidak memiliki akhlak karimah, sehingga kepintaran hanya digunakan untuk kepentingan pribadi saja.
“Untuk apa orang pintar tapi tidak terdidik, artinya tidak berakhlak,” kata Gus Mus, dikutip kanal youtube HMWI Official, Rabu (24/11/2021).
Gus Mus menilai fenomena orang terdidik namun tak berakhlak banyak ditemui di tengah masyarakat. Ia mencontohkan pencuri hingga maling kelas kakap yakni koruptor. Para koruptor memiliki latar pendidikan tinggi serta memiliki jabatan terhormat di tengah masyarakat.
“Mereka yang pintar tapi tidak terdidik itu juga pintar berkelit. Kalau orang pintar mencuri, tiba-tiba miliaran, itu pun susah dipenjara, kadang diadili juga sangat susah. Beda dengan orang bodoh jadi maling, itu gampang, nangkapnya gampang, mengadilinya juga gampang,” tuturnya.
Maka dari itu, salah satu solusi terbaik dari permasalahan ini adalah mendidik anak-anak di pesantren. Pesantren terus berupaya mendidik para santri memiliki akhlak mulia dengan sistem pengawasan 24 jam. Segala aktivitas berada di bawah kontrol para ustadz, sehingga dapat meminimalisir tindakan tak terpuji.
Di sisi lain, pendidikan ala kiai pesantren juga berbeda dengan pendidikan pada umumnya. Mereka mendidik santri secara komprehensir, mulai dari aspek dzahir hingga batin.