Buya Arrazy Hasyim, Ulama Muda Pembela Aqidah Aswaja dari Ranah Minang
Muhajirin
Senin, 19 Juli 2021 - 11:30 WIB
DR Arrazy Haryim, Ulama Muda pakar Aqidah dari Ranah Minang (foto: Ribath Nouraniyah)
Pengguna media sosial seperti Facebook dan Youtube tak asing dengan nama Dr. Arrazy Hasyim, MA. Nama Hasyim dinisbatkan kepada pendiri Nahdlatul Ulama, KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Meski bukan tidak tergabung dalam organisasi NU, tapi dia merupakan sosok yang sangat mencintai organisasi Islam tersebut.
Buya Arrazy merupakan pria kelahiran Kota Tangah, Payakumbuh, Sumatera Barat pada 21 April 1986, dari pasangan Nur Akmal bin M. Nur dan Asni binti Sahar. Arrazy menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Madrasah Tsanawiyah Negeri di Payakumbuh, lalu melanjutkan di Madrasah Aliyah Negeri 2 Bukittinggi 2002-2004.
Selain itu, pada 2004-2009 ia tercatat sebagai mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Pada 2009-2011, ia menyelesaikan magister Strata 2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah itu, pada tahun 2012-2017, menyelesaikan doktoralnya di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga. Pada tahun 2016 dan 2017, mendapatkan kesempatan untuk mengisi aktivitas dakwah dan seminar keislaman di KBRI Paris, KJRI Marseille, dan komunitas Muslim lainnya di Perancis.
Selain menempuh pendidikan formal, Buya Arrazy sudah menyelesaikan 6 kitab Hadits yakni Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, dan Ibn Majah di Ponpes Darussunnah dibimbing langsung Prof KH Ali Mustofa Yaqub. Lalu pada 2006-2008 dia aktif belajar kepada Syaikh Prof Dr. M. Hasan Hito, Dr Badi Sayyid al-Lahham dan Taufiq al-Buthi anak dari Syaikh Muhammad Said Ramadan al-Buthi, mereka semua dari Suriah. Pada akhir 2018, ia mendirikan Ribath al-Nouraniyah di Tangerang Selatan, sebuah majelis yang khusus mengkaji Ilmu Aqidah Ahlus Sunnah dan Tasawuf.
Semua ulama yang pernah menjadi guru Buya Arrazy merupakan ulama berhaluan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Tak heran jika dalam dakwahnya kini, Ustadz Razy berkomitmen untuk terus membela Aswaja. Ini karena garansi kebenaran paham Aswaja itu ada pada silsilah dan sanad. Sama dengan garansi kebenaran hadits yang yang ada pada silsilahnya yang shahih.
Pandangan Terhadap NU dan Muhammadiyah
Buya Arrazy merupakan pria kelahiran Kota Tangah, Payakumbuh, Sumatera Barat pada 21 April 1986, dari pasangan Nur Akmal bin M. Nur dan Asni binti Sahar. Arrazy menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Madrasah Tsanawiyah Negeri di Payakumbuh, lalu melanjutkan di Madrasah Aliyah Negeri 2 Bukittinggi 2002-2004.
Selain itu, pada 2004-2009 ia tercatat sebagai mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Pada 2009-2011, ia menyelesaikan magister Strata 2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah itu, pada tahun 2012-2017, menyelesaikan doktoralnya di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga. Pada tahun 2016 dan 2017, mendapatkan kesempatan untuk mengisi aktivitas dakwah dan seminar keislaman di KBRI Paris, KJRI Marseille, dan komunitas Muslim lainnya di Perancis.
Selain menempuh pendidikan formal, Buya Arrazy sudah menyelesaikan 6 kitab Hadits yakni Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, dan Ibn Majah di Ponpes Darussunnah dibimbing langsung Prof KH Ali Mustofa Yaqub. Lalu pada 2006-2008 dia aktif belajar kepada Syaikh Prof Dr. M. Hasan Hito, Dr Badi Sayyid al-Lahham dan Taufiq al-Buthi anak dari Syaikh Muhammad Said Ramadan al-Buthi, mereka semua dari Suriah. Pada akhir 2018, ia mendirikan Ribath al-Nouraniyah di Tangerang Selatan, sebuah majelis yang khusus mengkaji Ilmu Aqidah Ahlus Sunnah dan Tasawuf.
Semua ulama yang pernah menjadi guru Buya Arrazy merupakan ulama berhaluan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Tak heran jika dalam dakwahnya kini, Ustadz Razy berkomitmen untuk terus membela Aswaja. Ini karena garansi kebenaran paham Aswaja itu ada pada silsilah dan sanad. Sama dengan garansi kebenaran hadits yang yang ada pada silsilahnya yang shahih.
Pandangan Terhadap NU dan Muhammadiyah