LANGIT7.ID - Pengguna media sosial seperti Facebook dan Youtube tak asing dengan nama Dr. Arrazy Hasyim, MA. Nama Hasyim dinisbatkan kepada pendiri Nahdlatul Ulama, KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Meski bukan tidak tergabung dalam organisasi NU, tapi dia merupakan sosok yang sangat mencintai organisasi Islam tersebut.
Buya Arrazy merupakan pria kelahiran Kota Tangah, Payakumbuh, Sumatera Barat pada 21 April 1986, dari pasangan Nur Akmal bin M. Nur dan Asni binti Sahar. Arrazy menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Madrasah Tsanawiyah Negeri di Payakumbuh, lalu melanjutkan di Madrasah Aliyah Negeri 2 Bukittinggi 2002-2004.
Selain itu, pada 2004-2009 ia tercatat sebagai mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Pada 2009-2011, ia menyelesaikan magister Strata 2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah itu, pada tahun 2012-2017, menyelesaikan doktoralnya di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga. Pada tahun 2016 dan 2017, mendapatkan kesempatan untuk mengisi aktivitas dakwah dan seminar keislaman di KBRI Paris, KJRI Marseille, dan komunitas Muslim lainnya di Perancis.
Selain menempuh pendidikan formal, Buya Arrazy sudah menyelesaikan 6 kitab Hadits yakni Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, dan Ibn Majah di Ponpes Darussunnah dibimbing langsung Prof KH Ali Mustofa Yaqub. Lalu pada 2006-2008 dia aktif belajar kepada Syaikh Prof Dr. M. Hasan Hito, Dr Badi Sayyid al-Lahham dan Taufiq al-Buthi anak dari Syaikh Muhammad Said Ramadan al-Buthi, mereka semua dari Suriah. Pada akhir 2018, ia mendirikan Ribath al-Nouraniyah di Tangerang Selatan, sebuah majelis yang khusus mengkaji Ilmu Aqidah Ahlus Sunnah dan Tasawuf.
Semua ulama yang pernah menjadi guru Buya Arrazy merupakan ulama berhaluan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). Tak heran jika dalam dakwahnya kini, Ustadz Razy berkomitmen untuk terus membela Aswaja. Ini karena garansi kebenaran paham Aswaja itu ada pada silsilah dan sanad. Sama dengan garansi kebenaran hadits yang yang ada pada silsilahnya yang shahih.
Pandangan Terhadap NU dan MuhammadiyahMengutip catatan Muhammad Aminullah dari laman tebuireng.co, Buya Arrazy menilai Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai dua sayap penjaga keutuhan NKRI. Dua organisasi besar itu sudah terbukti selalu konsisten mengawal Indonesia.
Dari salah satu ceramah Buya Arrazy, dia menyampaikan bahwa dua sayap tersebut tidak boleh dipisahkan. Keduanya dalam satu kesatuan yang sangat erat. Baik secara ideologi maupun sejarah kedua pendiri organisasi. Ketika satu sayap patah, maka akan mengakibatkan ketidakseimbangan. Ibarat burung yang tidak bisa terbang dengan satu sayap, justeru akan jatuh terjerambab ke tanah.
Angin Segar untuk MinangkabauBuya Arrazy merupakan sosok ulama muda yang patut dibanggakan warga Minangkabau. Secara mazhab, beliau berhaluan Ahlussunnah Wal Jamaah dan secara Aqidah mengikuti Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi. Dalam bidang fikih mengikuti salah satu dari empat Imam madzhab: Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Hambali.
Dalam bidang tasawuf, beliau mengikuti Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Meski mengaku tak mengikuti Nahdlatul Ulama secara struktural, namun pemahaman beliau dalam aspek aqidah, fikih dan tasawuf, sama dengan ulama-ulama Ahlussunnah Wal Jamaah di NU.
Aktif BerdakwahBuya Arrazy bisa dikatakan sebagai representasi ulama muda saat ini. Selain menggelar kajian offline, ia aktif menggunakan fitur siaran langsung di media sosial untuk berdakwah. Terutama pada masa pandemi saat ini.
Di instagram, dia sering membagikan kutipan buku berbahasa Arab. buku tersebut menjelaskan tentang fikih, hadits, hingga buku rujukan umat Islam lainnya. Ia juga memberikan penjelasan pada setiap kutipan tersebut.
Demikian juga di platform Youtube. Ceramah Buya Arrazy sangat banyak di berbagai channel, seperti An-Nabawi TV, At-Tirfasy, Ribath Nourraniyah, Cafe Rumi dan lain sebagainya. Ia menjelaskan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan aqidah, hadits maupun tasawuf, sesuai dengan bidang keilmuan beliau.
(jqf)